Universitas Ma Chung Dorong Hilirisasi Kopi Sumberdem di Kabupaten Malang, Petani Dibekali Teknologi hingga Pemasaran Digital
SekarangAja, MALANG– Universitas Ma Chung tak henti melakukan pengabdian masyarakat. Salah satunya melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) 2026 yang didanai Hibah DPPM, Tim PKM Universitas Ma Chung mendampingi Kelompok Tani Sumber Mulyo di Kabupaten Malang dalam memperkuat hilirisasi kopi, mulai dari proses pengolahan pascapanen, pengelolaan usaha, hingga persiapan pemasaran digital.
Itu dilakukan mengingat potensi kopi rakyat di Desa Sumberdem, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang harus terus didorong agar mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani.
Program bertajuk “Penguatan Hilirisasi dan Digitalisasi Rantai Nilai Kopi untuk Akselerasi Desa Devisa Berkelanjutan di Desa Sumberdem, Kabupaten Malang” ini menjadi kelanjutan dari program pemberdayaan yang telah dilaksanakan pada 2025.

Pada tahun sebelumnya pendampingan menghasilkan perbaikan penanganan pascapanen, standar operasional prosedur (SOP) dasar, aplikasi Kalkulator Harga Pokok Produksi (HPP), serta pencatatan keuangan sederhana. Pada 2026 program diarahkan untuk membangun rantai usaha kopi yang lebih terintegrasi.
Selama ini, Kelompok Tani Sumber Mulyo telah memiliki kemampuan dalam budidaya dan pengolahan awal kopi. Namun, sebagian tahapan pengolahan lanjutan masih bergantung pada pihak luar. Kondisi tersebut menyebabkan petani belum sepenuhnya memperoleh nilai tambah dari komoditas kopi yang mereka hasilkan.
Ketergantungan terhadap pihak luar juga berdampak pada fleksibilitas produksi, biaya pengolahan, serta kemampuan kelompok dalam mengendalikan mutu produk secara mandiri.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Tim PKM Universitas Ma Chung menghadirkan empat peralatan pengolahan kopi. Yakni mesin huller, roaster, grinder, dan continuous sealer.
Mesin huller digunakan untuk mengupas kulit tanduk kopi sehingga kelompok dapat menghasilkan dan mengendalikan kualitas green bean secara mandiri. Mesin roaster memungkinkan petani mengolah green bean menjadi kopi sangrai dengan parameter waktu dan suhu yang lebih terkendali.
Sementara grinder digunakan untuk memperoleh tingkat giling yang lebih konsisten dan continuous sealer mendukung proses pengemasan dengan hasil penutupan kemasan yang lebih rapi dan seragam.
Belajar Langsung Mengoperasikan Mesin
Pendampingan tidak berhenti pada penyerahan peralatan. Pendekatan yang digunakan adalah learning by doing. Sehingga anggota kelompok tani memperoleh kesempatan untuk belajar melalui demonstrasi dan praktik secara langsung.
Pada 3 Agustus 2026 lalu, kegiatan diawali dengan sosialisasi, serah terima peralatan serta pelatihan pengoperasian mesin huller. Sebanyak 30 nama peserta tercatat dalam kegiatan tersebut.
Dalam praktiknya, mitra mempelajari tahapan pengoperasian huller berbasis SOP. Mulai dari pemeriksaan kesiapan mesin, pengumpanan bahan secara terkendali, pemeriksaan hasil pengupasan, pemisahan kulit dan kotoran, hingga pembersihan dan perawatan mesin.
Selanjutnya, pada 5 Agustus 2026, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan roasting menggunakan kopi Robusta proses natural asal Sumberdem.
Pelatihan ini menghasilkan tiga profil sangrai. Yakni Light, Medium, dan Dark Roast. Total tujuh kilogram green bean digunakan dalam tiga batch percobaan dan menghasilkan sekitar 5,5 kilogram roasted bean.
Setiap proses tidak hanya menghasilkan kopi sangrai, tetapi juga didokumentasikan melalui roast log. Catatan tersebut memuat kondisi bahan baku, waktu dan suhu roasting, first crack, berat hasil, susut produksi, hingga karakter hasil seduhan.

Langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun budaya produksi berbasis data. Sehingga kelompok tani tidak hanya mampu mengoperasikan mesin, tetapi juga memahami bagaimana parameter proses memengaruhi mutu dan karakter kopi.
Dari tiga percobaan awal, profil Medium Roast menjadi salah satu kandidat untuk diuji kembali karena menunjukkan keseimbangan karakter rasa yang lebih baik. Namun, profil tersebut masih membutuhkan pengulangan sebelum dapat ditetapkan sebagai standar produksi.
Keberdayaan Mitra Mulai Meningkat
Penerapan teknologi dan praktik langsung mulai menunjukkan perubahan pada kapasitas kelompok tani. Meski demikian, capaian tersebut masih merupakan tahap awal. Pelatihan grinder dan continuous sealer akan menjadi bagian dari kegiatan berikutnya sehingga rantai pengolahan dapat dilanjutkan dari kopi sangrai menjadi kopi bubuk yang dikemas dan siap dipasarkan.
Dari Produksi Menuju Usaha Berbasis Data
Salah satu karakter penting program PKM 2026 adalah upaya menghubungkan penguatan produksi dengan pengelolaan usaha. Data hasil produksi nantinya akan diintegrasikan dengan aplikasi Kalkulator HPP dan Laporan Keuangan Sederhana yang telah dikembangkan pada program sebelumnya.
Komponen seperti jumlah bahan baku, energi, tenaga kerja, penyusutan peralatan, kemasan, kehilangan bobot selama proses produksi, serta biaya lainnya akan dihitung untuk memperoleh HPP yang lebih aktual.
Dengan cara tersebut, kelompok tani diharapkan tidak lagi menentukan harga produk hanya berdasarkan perkiraan atau mengikuti harga pasar, tetapi mampu menggunakan data biaya produksi sebagai dasar menentukan margin dan harga jual.
Pengelolaan berbasis data juga diharapkan membantu kelompok mengevaluasi efisiensi produksi, merencanakan kapasitas usaha, mengelola arus kas serta mengambil keputusan usaha secara lebih rasional.
Menyiapkan Kopi Sumberdem Menjangkau Pasar Lebih Luas
Tahap berikutnya tidak hanya berfokus pada mesin dan produksi. Tim PKM Universitas Ma Chung juga menyiapkan pendampingan dalam pengembangan produk, branding, kemasan, penetapan harga, dan pemasaran digital.
Setelah profil sangrai, tingkat giling, berat bersih dan proses pengemasan distandardisasi, kelompok akan didampingi dalam menentukan target pasar dan posisi produk.
Harga jual akan disusun berdasarkan HPP aktual, sementara kanal pemasaran digital akan dikembangkan untuk memperluas jangkauan pasar yang selama ini masih banyak bertumpu pada jaringan lokal.
Dengan demikian, hilirisasi kopi tidak dimaknai sebatas menghadirkan mesin baru. Teknologi menjadi pintu masuk untuk membangun kemampuan petani dalam mengendalikan proses produksi, menjaga mutu, mencatat biaya, menentukan harga, mengemas produk, hingga berinteraksi dengan pasar.
Program PKM 2026 tersebut diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya usaha kopi Sumberdem yang semakin mandiri dan berkelanjutan.
Dari kebun hingga kemasan, kopi yang sebelumnya lebih banyak berhenti sebagai bahan setengah jadi secara bertahap diarahkan menjadi produk bernilai tambah yang pengolahannya dapat dikuasai sendiri oleh kelompok tani.
Upaya tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak cukup dilakukan melalui pemberian teknologi. Keberlanjutan justru dibangun ketika teknologi disertai keterampilan, standar proses, pencatatan usaha, serta kemampuan membaca pasar.
Melalui penguatan seluruh rantai nilai tersebut, kopi Sumberdem diharapkan tidak hanya dikenal sebagai komoditas hasil pertanian, tetapi berkembang menjadi produk lokal yang mampu menciptakan nilai ekonomi lebih besar bagi petani dan masyarakat desa. (sadw/red)
- Kelompok Tani Sumber Mulyo di Kabupaten Malang
- Pengabdian masyarakat Universitas Ma Chung
- Tim PKM Universitas Ma Chung mendampingi Kelompok Tani Sumber Mulyo di Kabupaten Malang
- Universitas Ma Chung
- Universitas Ma Chung Dorong Hilirisasi Kopi Sumberdem di Kabupaten Malang
- Universitas Ma Chung Pengabdian masyarakat















