Gelar Pelatihan Biokonversi Sampah Organik, Unikama Dorong Masyarakat Ciptakan Nilai dari Limbah
SekarangAja, MALANG– Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) terus mewujudkan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat yang berorientasi pemberdayaan dan keberlanjutan lingkungan. Salah satunya dilakukan melalui kegiatan “Pelatihan Penerapan Teknologi Biokonversi Sampah Organik Berbasis Komunitas”. Masyarakat mendapatkan pengetahuan dan keterampilan untuk mengembangkan potensi sampah organik menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Salah satu kerja sama yang dilakukan oleh Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unikama bersama TPA Supit Urang Kota Malang dilaksanakan di lingkungan komunitas lingkungan kos serta masyarakat di sekitar lingkungan kampus.
Kegiatan ini diketuai oleh Rina Wijayanti S.psi.,M.Psi dengan anggota Dr. Yulius Rustam Efendi M.pd dan Engelbertus Kukuh M.pd. Kegiatan tersebut juga melibatkan beberapa mahasiswa, yaitu Ralditya Fito Viant Babo, Yohanes Reinaldi Batista Nasir, Miftah Amalia, dan Batilda Joanna Nahak Seran.

Dalam pengabdian ini, Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Direktorat Pembelajaran, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP3M) mendorong hadirnya penerapan teknologi biokonversi sampah organik berbasis komunitas.
Pengabdian ini dilaksanakan mulai 13 April 2026 hingga akhir September 2026, dengan harapan dapat memberikan dampak positif kepada mahasiswa dan masyarakat agar mampu mengelola limbah sampah organik rumah tangga dengan memanfaatkan teknologi biokonversi di lingkungan komunitas dan masyarakat sekitar.
Ketua Tim Pengabdian Rina Wijayanti, S.PSi., M.Psi menjelaskan kegiatan ini merupakan implementasi Tridarma perguruan tinggi yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat.
Sementara itu, Dr. Arif, Kepala TPA Supit Urang Kota Malang, menyampaikan kondisi pengelolaan sampah di Kota Malang sekaligus mengajak mahasiswa untuk mulai mengurangi timbulan sampah sejak dari sumbernya. Menurut dia, perubahan perilaku masyarakat menjadi salah satu faktor penting dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Namun dalam pelaksanaannya, pengabdian ini masih mengalami kesulitan dalam memilah sampah organik dan anorganik pada limbah rumah tangga. Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala karena dapat memengaruhi penggunaan limbah sampah dalam teknologi biokonversi, khususnya untuk pakan maggot dan pembuatan pupuk komposter.
Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah pelatihan, tetapi menjadi awal dari gerakan yang terus tumbuh di tengah masyarakat. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh dapat diterapkan secara berkelanjutan, sehingga sampah organik tidak lagi dipandang sebagai persoalan, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai lingkungan dan ekonomi.
Lebih dari itu, melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat, diharapkan lahir komunitas yang semakin mandiri, inovatif, dan peduli terhadap keberlanjutan lingkungan. (red)















