Ini Sejarah MTQ di Indonesia dan Daftar Tuan Rumah MTQ sejak Pertama Kali Digelar
SekarangAja, SEMARANG– Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional yang sedang berlangsung di Semarang pada 11–20 September 2026 saat ini telah melewati sejarah panjang.
Bermula dari tradisi membaca Al-Qur’an yang tumbuh di tengah masyarakat. Dari majelis para qari, kegiatan ini berkembang menjadi musabaqah, dilembagakan pemerintah, dan kemudian menjadi tradisi nasional dengan cabang perlombaan yang semakin beragam.
MTQ merupakan ajang yang menguji berbagai kemampuan dalam membaca, menghafal, memahami, menafsirkan, dan menyampaikan Al-Qur’an. Di Indonesia, MTQ telah berkembang menjadi kegiatan rutin yang digelar secara berjenjang hingga tingkat nasional. Pada 2026, MTQ memasuki penyelenggaraan ke-31 di Semarang, Jawa Tengah.
MTQ berlangsung di Indonesia sejak dekade 1940-an. Itu bersamaan dengan berdirinya Jam’iyyatul Qurra wal Huffadz yang didirikan Nahdhatul Ulama. Dalam perkembangannya, kegiatan membaca Al-Qur’an dengan seni suara juga tumbuh di berbagai daerah. Kegiatan tersebut kemudian berkembang dari aktivitas yang digerakkan masyarakat dan organisasi Islam menjadi agenda yang dilembagakan pemerintah.
Gagasan yang tumbuh dari masyarakat tersebut kemudian memperoleh sambutan pemerintah. Presiden Soekarno merespons usulan itu dengan menyelenggarakan musabaqah bertaraf internasional pada Konferensi Islam Asia Afrika di Bandung pada 1965.
Setelah merasakan manfaat besar dari syiar melalui Al-Qur’an, pemerintah kemudian melembagakan MTQ sebagai kegiatan resmi yang digelar secara bergiliran di berbagai daerah. Pada 1968, MTQ nasional pertama digelar di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada penyelenggaraan pertama tersebut, cabang yang dilombakan masih terbatas pada tilawah dewasa. Dari ajang itu kemudian lahir qari Ahmad Syahid dari Jawa Barat dan Muhammadong dari Sulawesi Selatan.
Penyelenggaraan MTQ kemudian berlangsung setiap tahun sejak 1968 hingga 1981. Setelah MTQ yang dilaksanakan di Provinsi Aceh pada 1981, penyelenggaraannya berubah menjadi dua tahun sekali. Seiring waktu, MTQ berkembang dari kegiatan yang awalnya digerakkan masyarakat menjadi kompetisi berjenjang yang dimulai dari kampung, kecamatan, kabupaten, hingga provinsi.
Para wakil provinsi inilah yang kemudian berlomba di tingkat nasional. Pada tingkat nasional, para pemenang yang terjaring di tingkat provinsi dikirim untuk mengikuti kompetisi yang dihadiri dan dimeriahkan kafilah dari seluruh provinsi di Indonesia. Pola berjenjang tersebut membuat proses pembinaan dan seleksi peserta berlangsung secara berkelanjutan di berbagai daerah.
Dalam perkembangannya, pemerintah juga menghadirkan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ). Dalam STQ, lomba yang dipertandingkan meliputi Tilawah Al-Qur’an, Tahfidz Al-Qur’an, dan Tafsir Al-Qur’an bi Al-Arabiyyah. Sementara dalam MTQ, selain ketiga cabang tersebut, dipertandingkan pula Syarh Al-Qur’an, Khath Al-Qur’an, dan Cerdas Cermat Al-Qur’an atau Musabaqah Fahm Al-Qur’an.
MTQ digelar setiap dua tahun sekali. Namun, Menteri Agama
(Menag) Nasaruddin Umar mengatakan kesamaan persiapan yang dilakukan daerah dalam penyelenggaraan MTQ dan STQ menjadi salah satu pertimbangan untuk mengubah pola MTQ Nasional menjadi agenda tahunan.
“Kita sudah memutuskan bahwa setiap tahun akan dilaksanakan MTQ. Sebab, energi yang dikeluarkan dalam penyelenggaraan STQ relatif sama dengan MTQ. Karena itu, sekalian saja kita ubah menjadi MTQ,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
“Selama ini, daftar tunggu provinsi untuk menyelenggarakan MTQ sangat panjang. Jika hanya digelar dua tahun sekali, pemerataannya akan memakan waktu lama, seperti Jawa Tengah yang baru kembali menjadi tuan rumah setelah 47 tahun,” tambahnya.
Saat memberikan sambutan pada pembukaan MTQ Nasional XXXI,
di Lapangan Pancasila, Semarang, Menag Nasaruddin Umar mengumumkan bahwa MTQ akan digelar setiap tahun. Selama ini, MTQ berlangsung dua tahun sekali, karena bergantian dengan Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ).
“Kami sampaikan kepada Bapak/Ibu sekalian, bahwa kita tidak mengadakan lagi STQ. Karena itu demi untuk syiar, maka Kementerian Agama memutuskan bahwa setiap tahun kita tidak melakukan STQ, tapi yang kita lakukan adalah MTQ,” tegas Menag Nasaruddin Umar.
Pada awal penyelenggaraannya, MTQ lebih menonjolkan kemampuan membaca Al-Qur’an dengan suara dan lagu. Seiring waktu, cabang lomba berkembang sehingga MTQ tidak lagi hanya menjadi ajang untuk menampilkan seni baca Al-Qur’an. Cabang yang berkembang meliputi Musabaqah Hifdz Al-Qur’an, Musabaqah Syarh Al-Qur’an, Musabaqah Fahm Al-Qur’an, Khath Al-Qur’an, Tafsir Al-Qur’an, serta Musabaqah Menulis Ilmiah Al-Qur’an.
Perjalanan MTQ berlanjut hingga MTQ Nasional XXXI pada 2026 di Semarang pada 11–20 September 2026. Setelah lebih dari setengah abad menjadi tradisi nasional, MTQ terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat. Salah satu perkembangannya adalah hadirnya Eksibisi Disabilitas Tuli sebagai ruang partisipasi sekaligus upaya memperluas akses layanan keagamaan yang inklusif. Sebanyak 28 peserta dari 14 komunitas Tuli Muslim mengikuti eksibisi pada 14–16 September 2026 dalam golongan Tilawah dan Kitabah Al-Qur’an Isyarat.
Menag Nasaruddin Umar mengatakan MTQ Nasional XXXI di Semarang menjadi momentum untuk semakin memperkenalkan Al-Qur’an Isyarat kepada masyarakat. Penyelenggaraan ekshibisi tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas yang menjamin akses penyandang disabilitas, termasuk dalam pelayanan keagamaan.
“Al Quran adalah tuntunan bagi seluruh umat. Kita harus memastikan saudara-saudara kita penyandang disabilitas juga memiliki ruang dan akses yang semakin luas untuk mempelajari, memahami, dan mencintai Al Quran,” kata Menag Nasaruddin Umar
Sejak kali pertama diselenggarakan pada 1968, MTQ Nasional sudah digelar sebanyak 31 kali.
Ini daftar tuan rumah MTQ nasional:
1. MTQN 1968: Kota Makassar, Sulawesi Selatan
2. MTQN 1969: Bandung, Jawa Barat
3. MTQN 1970: Banjarmasin, Kalimantan Selatan
4. MTQN 1971: Medan, Sumatera Utara
5. MTQN 1972: Jakarta, DKI Jakarta
6. MTQN 1973: Mataram, Nusa Tenggara Barat
7. MTQN 1974: Surabaya, Jawa Timur
8. MTQN 1975: Palembang, Sumatera Selatan
9. MTQN 1976: Samarinda, Kalimantan Timur
10. MTQN 1977: Manado, Sulawesi Utara
11. MTQN 1979: Semarang, Jawa Tengah
12. MTQN 1981: Banda Aceh, Aceh
13. MTQN 1983: Padang, Sumatera Barat
14. MTQN 1985: Pontianak, Kalimantan Barat
15. MTQN 1988: Bandar Lampung, Lampung
16. MTQN 1991: Yogyakarta, DI Yogyakarta
17. MTQN 1994: Pekanbaru, Riau
18. MTQN 1997: Jambi, Jambi
19. MTQN 2000: Palu, Sulawesi Tengah
20. MTQN 2003: Palangkaraya, Kalimantan Tengah
21. MTQN 2006: Kendari, Sulawesi Tenggara
22. MTQN 2008: Serang, Banten
23. MTQN 2010: Bengkulu, Bengkulu
24. MTQN 2012: Ambon, Maluku
25. MTQN 2014: Batam, Kepulauan Riau
26. MTQN 2016: Mataram, Nusa Tenggara Barat
27. MTQN 2018: Medan-Deli Serdang, Sumatera Utara
28. MTQN 2020: Padang Pariaman, Sumatera Barat
29. MTQN 2022: Banjarbaru, Banjar, Banjarmasin, Kalimantan Selatan
30. MTQN 2024: Samarinda, Kalimantan Timur
31. MTQN 2026: Semarang, Jawa Tengah. (red)















