Ajakan Bangun Ekoteologi dan Persaudaraan saat Tawur Agung Prambanan 2026
SekarangAja, YOGYAKARTA– Umat Hindu diajak menjadikan Tawur Agung sebagai titik balik memperkuat kepedulian terhadap alam dan mempererat persaudaraan. Ajakan ini disampaikan Dirjen Bimas Hindu Kemenag, I Nengah Duija, dalam puncak pelaksanaan Tawur Agung rangkaian Hari Suci Nyepi Tahun Saka 1948 di pelataran Candi Prambanan Yogyakarta, Rabu (18/3/2026) hari ini.
“Tawur Agung mengajarkan ekologi spiritual, solidaritas sosial, dan integritas pribadi. Ini menjadi strategi peradaban dalam menghadapi krisis lingkungan dan sosial di era modern,” kata I Nengah Duija di dahapan sekitar 20 ribu umat Hindu yang datang dari berbagai daerah.
Tawur Agung memiliki makna filosofis yang mendalam sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan Tuhan. Ritual ini dapat dimaknai sebagai bentuk tanggung jawab moral manusia kepada alam setelah memanfaatkan sumber daya yang terkandung di dalamnya sepanjang tahun.
“Tawur Agung adalah upacara yajña yang bukan sekadar ritual, tetapi bentuk nyata penyucian alam semesta serta upaya mengharmoniskan hubungan manusia dengan alam, sesama, dan Sang Hyang Widhi Wasa,” ungkap Duija.
“Keseimbangan bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Tawur Agung adalah bentuk tanggung jawab moral manusia kepada alam melalui persembahan suci,” sambungnya.
Pelaksanaan Tawur Agung di Prambanan memiliki nilai strategis dan spiritual karena merupakan pusat peradaban Hindu Nusantara. “Prambanan bukan sekadar situs sejarah, melainkan ruang sakral yang menghubungkan manusia dengan jagat raya, simbol penyatuan spiritual dan kebudayaan bangsa,” ujar Duija.
Pelaksanaan Tawur Agung ini merupakan bagian dari rangkaian Hari Suci Nyepi yang berpuncak pada pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Melalui keheningan Nyepi, umat Hindu diajak melakukan refleksi diri guna mencapai kedamaian batin dan harmoni semesta.
Dengan kehadiran puluhan ribu umat serta dukungan berbagai pihak, Tawur Agung di Prambanan tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga simbol penguatan spiritualitas, persatuan, dan komitmen menjaga keseimbangan kehidupan di tengah dinamika zaman.
Acara ini dihadiri oleh Ketua Umum PHDI Pusat, perwakilan Gubernur melalui Kepala Dinas Kebudayaan Jawa Tengah, Ketua Dharma Shanti Nasional, Bupati Klaten, jajaran Kanwil Kemenag Jawa Tengah dan DIY, pimpinan organisasi kemasyarakatan Hindu tingkat nasional maupun provinsi, serta tokoh masyarakat. (red)















