U

Universitas Ma Chung Dorong Ekosistem Kewirausahaan Sosial Santri Darul Jundi Melalui Budidaya Jamur

SekarangAja, MALANGUniversitas Ma Chung konsisten terus melakukan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas). Terkini  mendorong penguatan ekosistem kewirausahaan sosial di Yayasan Bina Yatim Darul Jundi, Kota Malang. Itu dilakukan  melalui pendampingan pengelolaan Kumbung Jamur Darul Jundi.

Program ini dikembangkan dengan pendekatan yang berbeda dari budidaya jamur pada umumnya. Kumbung jamur yang saat ini masih berskala kecil dengan sekitar 200-300 baglog tidak semata-mata diarahkan untuk mengejar volume produksi. Namun diposisikan sebagai laboratorium pembelajaran (living laboratory) bagi santri.

Melalui laboratorium tersebut, santri mendapatkan pengalaman langsung untuk belajar mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, pencatatan, pemecahan masalah, hingga pengembangan ide usaha.

Dengan demikian, aktivitas sederhana seperti memeriksa suhu dan kelembapan, menjaga kebersihan kumbung, merawat baglog, melakukan pencatatan, hingga membantu proses panen menjadi bagian dari proses pendidikan kewirausahaan sosial.

Kumbung ini bukan sekadar tempat untuk menghasilkan jamur, tetapi tempat untuk menghasilkan pribadi yang lebih baik.

Pendekatan tersebut menjadi landasan utama kegiatan pendampingan. Santri tidak hanya diajak memahami bagaimana sebuah jamur dapat tumbuh, tetapi juga memahami bahwa sebuah usaha membutuhkan proses, konsistensi, kepedulian, dan kemampuan menjaga amanah.

Dari Kumbung Jamur Menuju Ekosistem Kewirausahaan Sosial

Pengembangan kumbung jamur Darul Jundi diarahkan sebagai titik awal untuk membangun ekosistem kewirausahaan sosial yang lebih luas.

Dalam ekosistem tersebut, proses pembelajaran tidak berhenti pada aktivitas produksi. Santri didorong untuk mulai mengenali bagaimana sebuah produk dapat dikembangkan, bagaimana manfaat sosial dapat diceritakan, serta bagaimana kreativitas dapat digunakan untuk menciptakan nilai baru.

Karena itu, pendampingan juga memperkenalkan ruang bagi santri untuk mengembangkan konten kreatif, menceritakan dampak sosial kegiatan, mengeksplorasi produk olahan jamur, serta menyebarkan inspirasi kebaikan melalui media digital.

Pendekatan ini diharapkan dapat membangun pola pikir bahwa kewirausahaan bukan semata-mata tentang menghasilkan keuntungan, tetapi juga tentang menciptakan nilai dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Menumbuhkan Karakter melalui Aktivitas Sederhana

Salah satu kekuatan program ini terletak pada integrasi antara aktivitas teknis dengan pembentukan karakter. Santri belajar bahwa datang tepat waktu merupakan bentuk disiplin. Menjaga kebersihan merupakan bentuk kepedulian. Mengisi logbook merupakan latihan kejujuran. Bekerja bersama teman merupakan latihan kolaborasi. Sementara merawat baglog menjadi latihan menjaga amanah.

Dengan pendekatan tersebut, kegiatan di kumbung jamur menjadi pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan sehari-hari santri.

“Jamur mungkin hanya tumbuh dalam beberapa minggu. Namun karakter yang tumbuh selama proses merawatnya dapat menjadi bekal sepanjang kehidupan.”

Menghadirkan Pembelajaran yang Kontekstual

Untuk mendukung proses tersebut, tim pengabdi mengembangkan Handbook Santri Sociopreneur: Laboratorium Pembelajaran Kumbung Jamur Darul Jundi sebagai panduan pembelajaran bagi santri.

Handbook tersebut mengangkat tema “Menumbuhkan Karakter Melalui Kewirausahaan Sosial”. Dikemas dengan pendekatan visual yang dekat dengan dunia anak dan remaja. Materinya tidak hanya memperkenalkan kumbung dan jamur, tetapi juga mengangkat nilai amanah, disiplin, kreativitas, inovasi, kerja sama, dan kebermanfaatan.

Selain handbook, santri juga diperkenalkan dengan SOP sederhana pengelolaan kumbung dan logbook harian. Keduanya dirancang agar santri dapat terlibat langsung dalam proses pengelolaan tanpa mengganggu aktivitas utama mereka sebagai siswa dan santri.

Dari Santri, untuk Kebermanfaatan yang Lebih Luas

Ketua tim pengabdian, Bagas Brian Pratama M.Tr.Ak. memandang bahwa pengembangan kewirausahaan sosial membutuhkan proses yang berkelanjutan. Karena itu, kumbung jamur Darul Jundi diharapkan dapat menjadi ruang tumbuh bagi santri untuk mencoba, belajar, melakukan kesalahan, memperbaiki diri, dan mengembangkan gagasan baru.

Kedepan, ekosistem tersebut dapat berkembang dari pengelolaan kumbung menuju pengembangan produk, pemasaran, konten digital, hingga berbagai bentuk inovasi sosial lainnya sesuai dengan potensi dan kebutuhan Darul Jundi.

Semangat yang dibangun adalah bahwa keterbatasan sumber daya bukan alasan untuk berhenti berkarya. Justru dari ruang sederhana, santri dapat belajar menciptakan sesuatu yang memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai sosial.

Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan komunitas, Universitas Ma Chung berharap kegiatan ini dapat menjadi salah satu model pembelajaran kewirausahaan sosial yang kontekstual, sederhana, berkelanjutan, dan dapat dikembangkan sesuai potensi santri.

Pada akhirnya, yang ingin ditumbuhkan bukan hanya kumbung jamurnya, tetapi juga ekosistemnya: santri yang belajar, berkarya, berinovasi, dan menghadirkan manfaat bagi sesama.

Tentang Program

Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Ma Chung bersama Yayasan Bina Yatim Darul Jundi, Kota Malang yang diketuai oleh Bagas Brian Pratama dan anggota pengabdi Fibe Yulinda Cesa dan Teofilius Karnalim. Program berfokus pada penguatan pembelajaran sociopreneurship melalui pemanfaatan kumbung jamur sebagai laboratorium pembelajaran bagi santri. (sadw/red)

O2SN 2026 Digelar Jadi Pemacu Prestasi

Sekarang

O2SN 2026 Digelar Jadi Pemacu Prestasi

Sekarang