Ini Makna Prosesi Pradaksina di Candi Borobudur yang Diikuti Peserta Indonesia Tipitaka Chanting 2026
SekarangAja, MAGELANG– Para bhikkhu Sangha memimpin Prosesi Pradaksina. Peserta Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026 melaksanakan pradaksina mengelilingi Candi Borobudur sebagai salah satu rangkaian kegiatan Indonesia Tipitaka Chanting (ITC) 2026. Prosesi ini diikuti para peserta dengan tertib, penuh ketenangan, serta suasana yang khidmat.
Dalam prosesi tersebut, para bhikkhu Sangha bersama peserta berjalan searah jarum jam mengelilingi Candi Borobudur sambil merenungkan keutamaan Buddha, Dhamma, dan Sangha. Setiap langkah menjadi bagian dari latihan kesadaran untuk menenangkan pikiran, membersihkan batin, serta menumbuhkan keyakinan dan semangat dalam mempraktikkan ajaran Buddha.
Pelaksanaan pradaksina di Candi Borobudur juga menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan umat Buddha dari berbagai daerah. Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan semakin menghayati nilai-nilai luhur Dhamma serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari demi terciptanya kedamaian, keharmonisan, dan kebahagiaan bagi semua makhluk.
Bhante Atthadhiro Thera menjelaskan bahwa prosesi pradaksina merupakan kelanjutan dari pembacaan Tipitaka pada hari kedua Indonesia Tipitaka Chanting 2026. Tradisi ini merupakan salah satu bentuk penghormatan kepada Tiratana yang telah diwariskan sejak masa awal perkembangan ajaran Buddha.
“Setelah pembacaan Tipitaka pada hari kedua, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pradaksina. Pradaksina merupakan salah satu bentuk budaya puja, yakni penghormatan kepada Tiratana dengan berjalan searah jarum jam sambil menempatkan objek penghormatan di sisi kanan dan mengelilinginya sebanyak tiga kali. Melalui prosesi ini, umat Buddha diajak memperkokoh keyakinan dengan senantiasa mengingat keluhuran Buddha, Dhamma, dan Sangha,” jelasnya di Candi Borobudur, Sabtu (25/7/2026) hari ini.
Menurutnya, membaca paritta dan melaksanakan Pradaksina memiliki tujuan yang sama, yakni mendekatkan hubungan spiritual umat dengan Sang Buddha melalui penghayatan terhadap ajaran Dhamma.
“Selain membaca paritta, pradaksina menjadi salah satu upaya agar umat Buddha semakin dekat dengan Guru Agung Sang Buddha. Siapa yang mengingat Dhamma, sesungguhnya ia sedang mengingat Sang Buddha. Dan siapa yang mempraktikkan Dhamma, pada akhirnya akan mengakhiri penderitaan. Itulah makna terdalam dari pradaksina, yakni berjalan mengikuti petunjuk Guru Agung Sang Buddha sekaligus memberikan penghormatan kepada Tiratana,” tuturnya.
Bhante juga menekankan bahwa makna Pradaksina sangat relevan dengan kehidupan masa kini. Di tengah kesibukan dan derasnya arus kehidupan modern, berjalan dengan penuh kesadaran menjadi latihan sederhana yang mampu membawa ketenangan batin.
“Harapan kami, melalui pradaksina ini umat Buddha semakin mampu berjalan dengan penuh kesadaran atau mindfulness. Ketika seseorang berjalan dengan kesadaran, batinnya akan berkembang menuju ketenangan. Pikiran yang jernih akan membuat seseorang berpikir, berbicara, dan bertindak secara sadar. Dalam kondisi demikian, ia tidak perlu ditakut-takuti untuk tidak berbuat jahat karena secara alami tidak akan melakukannya. Sebaliknya, ia juga tidak perlu dipaksa untuk berbuat baik karena kebajikan akan tumbuh dengan sendirinya. Itulah berkah bagi mereka yang telah mengembangkan kesadaran,” paparnya.
Lebih jauh, ia berharap praktik-praktik spiritual seperti Pradaksina mampu membentuk karakter umat Buddha yang semakin matang dalam kehidupan sehari-hari.
“Semoga dari waktu ke waktu tingkat kesadaran umat Buddha semakin meningkat, sehingga semakin mampu meninggalkan berbagai keburukan dan semakin bersemangat menumbuhkan kebajikan. Semua itu merupakan bagian dari jalan untuk melepaskan kemelekatan dan menuju kebebasan batin,” katanya.
Prosesi Pradaksina di Candi Borobudur menjadi lebih dari sekadar tradisi keagamaan. Di setiap putaran yang ditempuh, tersimpan pesan tentang ketekunan, kesadaran, dan penghormatan kepada ajaran Buddha. Di antara ribuan langkah yang bergerak serempak, lahir harapan agar nilai-nilai Dhamma terus hidup dalam hati setiap peserta, lalu menjelma menjadi sikap penuh welas asih, kebijaksanaan, serta kedamaian yang memancar dalam kehidupan sehari-hari. (red)















