U

Dosen Fakultas Bahasa Universitas Ma Chung Perkuat Pembelajaran Transformatif

SekarangAja, MALANGUniversitas Ma Chung terus memperkuat kualitas pendidikan. Salah satunya dilakukan Fakultas Bahasa  memperkuat kualitas pembelajaran melalui kegiatan pengimbasan Pembelajaran Transformatif pada Mata Kuliah. Kegiatan yang dilaksanakan pada Jumat (14/8/2026) ini dipandu Prof. Dr. Daniel Ginting. Kegiatan ini diikuti para dosen dari Program Studi Sastra Inggris dan Program Studi Pendidikan Bahasa Mandarin.

Kegiatan pengimbasan ini merupakan tindak lanjut dari Pelatihan Pembelajaran Transformatif bagi Dosen Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 7–9 Agustus 2026 di Atria Hotel Malang. Pelatihan tersebut merupakan kerja sama Direktorat Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif, Direktorat Jenderal Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Universitas Negeri Malang, melalui Lembaga Pengembangan Pendidikan dan Pembelajaran (LP3) Universitas Negeri Malang.

Melalui kegiatan pengimbasan di tingkat fakultas, pemahaman dan pengalaman yang diperoleh dari pelatihan tersebut diteruskan kepada para dosen agar dapat dikontekstualisasikan ke dalam mata kuliah masing-masing. Fokusnya bukan sekadar mengenalkan konsep baru, tetapi mendiskusikan bagaimana pembelajaran transformatif dapat diterapkan secara realistis dalam perencanaan pembelajaran, Sub-CPMK, aktivitas kelas, refleksi, hingga asesmen.

sekarangaja

Dalam paparannya, Prof Ginting menjelaskan bahwa pembelajaran transformatif tidak dimaksudkan untuk menggantikan pembelajaran berbasis konten maupun Outcome-Based Education (OBE).

Pembelajaran berbasis konten tetap diperlukan untuk membangun fondasi pengetahuan. Sedangkan OBE memastikan bahwa mahasiswa mampu menunjukkan kompetensi yang telah ditetapkan.

Pembelajaran transformatif memperdalam kedua pendekatan tersebut dengan membawa mahasiswa dari tahap “I know” dan “I can and I do” menuju “I understand why, take responsibility, and become.”

Menurut Prof. Ginting, pendidikan tinggi tidak cukup berhenti pada pertanyaan tentang apa yang diketahui dan mampu dilakukan mahasiswa. Mahasiswa juga perlu dibantu untuk memahami mengapa suatu pengetahuan dan kompetensi digunakan, mempertanyakan asumsi yang selama ini diterima begitu saja, mempertimbangkan perspektif lain, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Dengan demikian, pembelajaran transformatif dapat menjadi jembatan antara orientasi outcome-based dan pembelajaran yang menghasilkan dampak nyata bagi diri mahasiswa, profesi, organisasi, maupun masyarakat.

Para dosen juga diajak memahami bahwa tidak seluruh bagian mata kuliah harus dipaksakan menjadi transformatif. Materi yang bersifat prosedural, seperti penguasaan aturan bahasa atau keterampilan teknis tertentu, tetap penting sebagai fondasi. Potensi transformasi lebih kuat muncul ketika pembelajaran menghadirkan dilema, asumsi yang perlu diperiksa, perbedaan perspektif, persoalan nilai, maupun situasi nyata yang menuntut mahasiswa mengambil keputusan.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui pemaparan, diskusi, analisis kasus, serta aktivitas bersama. Para peserta diajak mengidentifikasi bagian dari mata kuliah yang memiliki potensi transformatif serta mendiskusikan lima prinsip penting. Yakni penggunaan masalah dan pengalaman nyata, refleksi kritis, dialog, integrasi dimensi kognitif-afektif-sosial, serta pembelajaran yang responsif terhadap keragaman mahasiswa.

Dalam konteks Prodi Sastra Inggris, salah satu contoh yang dibahas berasal dari mata kuliah Prose. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu menganalisis tokoh, konflik, atau unsur intrinsik karya.

Mereka juga dapat diarahkan untuk memeriksa mengapa memberikan penilaian tertentu terhadap tokoh, apakah interpretasi tersebut dipengaruhi pengalaman dan asumsi pribadi, serta apakah terdapat perspektif lain yang perlu dipertimbangkan.

Mahasiswa kemudian diminta membangun kembali interpretasinya berdasarkan bukti, konteks, dan refleksi terhadap asumsi sendiri.

Prof. Ginting juga memperkenalkan alur Trigger – Reflection – Action – Integration. Mahasiswa terlebih dahulu mengalami situasi yang menggoyahkan cara berpikirnya, kemudian merefleksikan asumsi yang dimiliki, mencoba tindakan berdasarkan perspektif baru, dan akhirnya mengintegrasikan perspektif tersebut ke dalam kebiasaan berpikir serta tindakannya.

Melalui kegiatan pengimbasan ini, Fakultas Bahasa Universitas Ma Chung mendorong para dosen untuk memulai penerapan pembelajaran transformatif secara bertahap. Dosen dapat memulainya dari satu Sub-CPMK dan satu persoalan yang memiliki potensi transformasi, kemudian melihat apakah pengalaman belajar tersebut benar-benar membantu mahasiswa bergerak dari sekadar mengetahui dan mampu melakukan menuju kemampuan menilai, merefleksikan, merekonstruksi perspektif, serta mengambil tindakan yang lebih bertanggung jawab. (sadw/red)

Matangkan Operasional LRT Velodrome-Manggarai

Jakarta Diprakirakan Cerah Hari Ini

Sekarang

Matangkan Operasional LRT Velodrome-Manggarai

Sekarang

Jakarta Diprakirakan Cerah Hari Ini

Sekarang