Begini Pandangan Dr Nanda Gudban Tentang Toleransi dan Semangat Sumpah Pemuda
SekarangAja, MALANG–Semua anak bangsa di Indonesia dipanggil untuk merawat toleransi. Karena bangsa ini dibangun dengan semangat persaudaraan dalam keberagaman. Apalagi kala memperingati Sumpah Pemuda, harusnya semua anak bangsa merefleksi bahwa perbedaan adalah perekat bangsa.
Hal itu ditegaskan Ketua Komunitas Perempuan Peduli Indonesia (KoPPI) Dr Yaqud Ananda Gudban SS, S,ST.Par, MM.
Nanda Gudban, sapaan akrab Dr Ya’qud Ananda Gudban SS, S,ST.Par, MM, mengatakan hal itu saat menjadi salah satu narasumber dalam sarasehan Sumpah Pemuda dalam bingkai toleransi dan keberagaman dan usai sarasehan tersebut.
Sarasehan digelar Forum Bhineka Muda Malang dalam rangkaian Arjuna, Ajang Riset Pejuang Nusantara, Lomba Essay dan Poster Nasional Stadium General, Sarasehan Sumpah Pemuda, Awarding dan Field Trip. Kegiatan tersebut digelar di Auditorium Prof Suryono, FT Universitas Brawijaya (UB), Sabtu (17/10) kemarin.
Lebih lanjut Nanda mengatakan peran pemuda dalam merawat toleransi sangat penting. Bahkan menurut dia, merupakan aksi yang harus terus direfleksi.
‘’Sumpah Pemuda adalah komitmen generasi muda pada zamannya untuk Indonesia sepanjang zaman. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan perbedaan tapi menghasilkan komitmen kebangsaan yang besar sebagai salah satu pondasi bangsa ini,’’ kata Nanda Gudban.
Lebih lanjut tokoh perempuan nasional ini mengingatkan bahwa merefleksi Sumpah Pemuda sangat penting dan relevan dengan perkembangan zaman.
‘’Setidaknya melalui Sumpah Pemuda kita semua diingatkan tentang beberapa hal penting. Di antaranya pertama, anak muda atau generasi muda punya idealisme yang kuat dan berperan nyata untuk bangsa,’’ katanya.
‘’Kedua mereka telah dengan semangat kebersamaan yang kuat di tengah keberagaman bersatu dalam komitmen kebangsaan yang besar,’’ sambung Nanda Gudban.
Dengan semangat Sumpah Pemuda, Nanda Gudban mengajak semua elemen bersatu padu, bergandengan tangan merawat keberagaman dan toleransi.
Soal toleransi, Nanda Gudban mengingatkan bahwa dasar pemikiran toleransi adalah menerima perbedaan sebagai satu kekuatan. Toleransi pun harus dimaknai sebagai dasar memanusiakan manusia.
‘’Bagaimana mayoritas bisa memberi ras aman dengan mengayomi, dan minoritas bisa menempatkan dan menyesuaikan diri dengan realitas keadaan,’’ katanya.
Namun dia memastikan konsep tersebut sudah sangat dipahami dan dijalankan selama ini. ‘’Karena itulah kita harus terus menyegarkan toleransi pada setiap zaman. Generasi muda, anak-anak muda zaman sekarang pun harus merefleksi ini terus untuk dilanjutkan pada masanya yang akan datang,’’ pesannya.
Nanda pun mengajak generasi muda agar dengan merefleksi semangat Sumpah Pemuda, maka generasi zaman sekarang tak mudah terprovokasi dengan narasi-narasi yang memecah belah bangsa. ‘’Jangan jadi korban narasi yang menyesatkan. Justru sebaliknya jadilah generasi kekinian yang menyuburkan narasi dan semangat kebangsaan dengan merawat kebersamaan di tengah keberagaman kita,’’ pesannya. (red)















