Polwan Dokter Ahli Forensik Pecah Bintang
JAKARTA– Kombes Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, D.F.M.,Sp.F, salah satu dari 31 perwira tinggi (pati) Polri yang naik pangkat. Polwan dokter ahli forensik ini naik pangkat dari kombes menjadi brigjen. Ia memiliki sederet prestasi yang menginspirasi.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan kenaikan pangkat itu berdasarkan surat telegram nomor STR/1768/VI/KEP/2024, dan telegram nomor STR/1686/VI/KEP/2024.
Asisten Kapolri Bidang Sumber Daya Manusia (As SDM) Polri Irjen Dedi Prasetyo menyampaikan bertambahnya Polwan yang menjadi jenderal adalah bukti keseriusan Polri, baik kontribusi maupun komitmen dalam mendukung keadilan dan kesetaraan gender di lingkungan Kepolisian.
“Yakni mendukung penuh dan berkomitmen dalam memberikan kesempatan kepada Polisi Wanita (Polwan) untuk menduduki jabatan strategis dilingkup Kepolisian,” kata Irjen Dedi dalam keterangan tertulis.
Sumy Hastry Purwanti merupakan ahli forensik wanita di Indonesia yang telah berkiprah hingga internasional. Polwan ini membuat layanan Forensik Klinik (Forklin) secara khusus demi keberpihakan kepada korban kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak.
Saat menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, dr Hastry membuat ruang khusus untuk penanganan penyidikan hingga pendampingan kesehatan korban. Hal ini bertujuan agar perempuan dan anak yang menjadi korban mendapatkan haknya.
Hastry juga telah menerbitkan buku tentang kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak dari sudut pandang forensik. Salah satunya buku terkait legalitas tentang kekerasan dalam rumah tangga.
“Saya sebenarnya juga sering meriksa kasus-kasus korban kekerasan seksual, pemerkosaan perempuan dan anak dan saya juga udah ada 2 buku tentang itu,” sebutnya.
Menurut Hastry, perempuan dewasa dan anak rentan terhadap kasus kekerasan seksual. Selain itu, anak laki-laki juga salah satu kelompok rentan dalam kasus kekerasan seksual sesama jenis yang dilakukan oleh orang dewasa.
Sebagai ahli forensik, Hastry mendapatkan penugasan untuk identifikasi korban kecelakaan pesawat hingga kasus terorisme. Hastry pernah terlibat pada identifikasi korban Bom Bali 1 dan 2.
“Saya dokter terus gabung di kepolisian. Selesai jadi polisi pangkatnya Ipda, terus mengambil lagi sekolah forensik, terus Bom Bali 1, Bom Bali 2 saya ikut terus, (gempa dan tsunami) Palu, kapal tenggelamdi Danau Toba, pesawat jatuh Sukhoi di Belanda, Lion yang di Jakarta, Air Asia,” tutur dia.
Beragam tantangan yang dialami oleh dr Hastry sebagai ahli forensik. Salah satunya adalah bekerja dalam kondisi dikejar oleh waktu. “Tantangannya ya kita disuruh cepat-cepat karena keluarga menunggu. Agak sulit kalau bagian tubuhnya terbakar karena ledakan. Jadi waktunya kita kadang nggak kenal waktu, istirahat sebentar, kerja lagi, kerja lagi,” tutur dia.
Di tengah kesibukannya sebagai ahli kedokteran forensik. dr Hastry selalu mengusahakan waktu untuk keluarganya. Akan tetapi, kata dia, jika tugas telah memanggil dia harus berangkat.
“Ya diusahakan untuk itu (waktu bersama keluarga), kalau sudah tugas saya tetap berangkat, masyarakat kan lebih butuh juga dengan ilmu yang diberikan Tuhan kepada saya,” katanya. (red)















