U

UIN Palangka Raya Kembangkan Drone dengan AI Pendeteksi Api Lawan Karhutla

SekarangAja, PALANGKA RAYA-  Universitas Islam Negeri (UIN) Palangka Raya punya inovasi hebat dalam membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Inovasinya berupa mengembangkan drone berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendeteksi dan memetakan titik api di lahan gambut.

Teknologi tersebut  disiapkan untuk memperkuat deteksi dini hingga mitigasi kebakaran  karhutla  di Kalimantan. Pengembangan teknologi tersebut menjadi bagian dari Crisis Command Center (CCC) Karhutla UIN Palangka Raya yang diluncurkan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, Amien Suyitno, belum lama ini.

CCC dikembangkan melalui riset bertajuk Development of AI Camera-Equipped Drone System for Targeted Peatland Fire Control and Disaster Mitigation During Extended Dry Seasons in Kalimantan.

Riset dipimpin Muhammad Nasir bersama Jhelang Annovasho, Zulya Desmita, dan Fitriyani dari UIN Palangka Raya serta Faisal Ashari dari Universitas Bojonegoro. Penelitian tersebut memperoleh pendanaan melalui Program Riset Indonesia Bangkit Kementerian Agama atau MORA The AIR Funds.

Jhelang mengatakan, pengembangan teknologi tersebut semakin relevan dengan kondisi Kalimantan yang menghadapi ancaman karhutla. Terutama saat musim kemarau berkepanjangan.

“Kami ingin teknologi ini tidak berhenti di laboratorium. AI dan drone ini dikembangkan untuk membantu mendeteksi titik rawan lebih cepat, sehingga pencegahan dan penanganan karhutla dapat dilakukan sebelum kebakaran meluas,” kata Jhelang.

Deteksi Api di Lahan Gambut

Sistem yang dikembangkan memadukan drone dengan kamera berbasis AI untuk mendeteksi dan memetakan titik api secara lebih presisi. Drone juga dirancang memiliki kemampuan navigasi otomatis dan pemetaan target untuk mendukung pengendalian kebakaran di lahan gambut.

Salah satu tantangan yang ingin dijawab adalah fenomena smouldering. Yakni kebakaran yang berlangsung di bawah permukaan lahan dan sulit terlihat secara visual. Api jenis ini dapat terus membara di lapisan gambut sebelum muncul ke permukaan dan berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

“Karena itu, kemampuan mendeteksi potensi kebakaran lebih awal menjadi bagian penting dari sistem yang tengah dikembangkan,” imbuh Jhelang. 

Dalam presentasi tim peneliti di hadapan Dirjen Pendis, pengembangan teknologi dilakukan melalui tiga tahap. Pada tahap pertama pada 2026, tim berfokus pada perancangan sistem, pengumpulan dataset dari kasus karhutla nyata, serta pelatihan model AI menggunakan metode YOLO (You Only Look Once).

Model tersebut dilatih untuk membantu sistem mengenali objek atau indikasi kebakaran berdasarkan data yang dikumpulkan. Temuan awal riset selanjutnya akan diintegrasikan dengan CCC Karhutla UIN Palangka Raya.

AI Dipasang pada Drone

Memasuki tahap kedua, penelitian akan memperkaya dataset melalui pengujian skala laboratorium sekaligus menyempurnakan kemampuan drone.

“Sistem AI nantinya diintegrasikan dengan edge computer yang dipasang pada drone. Dengan sistem ini, pemrosesan data dapat dilakukan langsung saat drone beroperasi di lapangan sehingga potensi smouldering maupun kemunculan api dapat diidentifikasi lebih cepat,” papar Jhelang.

Integrasi AI dengan drone tersebut juga memungkinkan pemantauan dilakukan pada wilayah yang sulit dijangkau melalui pengamatan langsung di darat.

Sementara pada tahap ketiga, penelitian diarahkan pada penerapan dan pengujian sistem dalam skala lapangan. Drone tidak hanya dikembangkan untuk pemantauan dan deteksi dini. Dalam pengembangannya, teknologi tersebut juga diproyeksikan mendukung mitigasi melalui pengangkutan air dan peralatan pembasahan serta membantu proses evakuasi apabila diperlukan.

Dari Data Menjadi Kebijakan

Pengembangan teknologi tersebut tidak berdiri sendiri. Melalui CCC, data dan temuan riset juga akan disampaikan kepada pimpinan sebagai bahan penyusunan kebijakan terkait karhutla, baik yang berdampak pada kegiatan akademik maupun nonakademik.

CCC juga disiapkan sebagai pusat informasi bagi sivitas akademika dan masyarakat untuk mengetahui perkembangan, pemantauan, hingga penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Dengan pendekatan tersebut, tim peneliti berharap hasil riset tidak berhenti sebagai produk akademik. Teknologi yang dikembangkan diharapkan dapat menjadi bagian dari solusi terpadu untuk memperkuat deteksi dini, pemantauan, pencegahan, dan mitigasi karhutla di Kalimantan. (red)

Cuaca Jakarta Diprakirakan Cerah Hari Ini

Komdigi Peduli Bantu Korban Gempa Flores NTT

Sekarang

Cuaca Jakarta Diprakirakan Cerah Hari Ini

Sekarang

Meriahnya Jalan Sehat Kalirejo Lawang Kabupaten Malang

Sekarang

Komdigi Peduli Bantu Korban Gempa Flores NTT

Inspirasi