Waisak 2026 Momentum Menag Apresiasi Umat Buddha Rawat Kerukunan Indonesia
SekarangAja, JAKARTA– Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan apresiasi kepada umat Buddha saat peringatan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE). Sebab umat Buddha dinilai berperan penting dalam menjaga harmoni dan kerukunan di Indonesia.
“Saya ingin menyampaikan apresiasi kepada saudara-saudara umat Buddha. Dalam beberapa tahun terakhir indeks kerukunan umat beragama di Indonesia mencapai angka tertinggi sepanjang sejarah. Ini merupakan hasil kontribusi semua pihak yang terus menjaga nilai-nilai kebijaksanaan dan toleransi,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Menag Nasaruddin Umar juga menyatakan bahwa Hari Raya Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) merupakan momentum spiritual yang penting untuk meneguhkan komitmen dalam menebarkan cinta kasih serta menumbuhkan perdamaian dunia.
“Hari Raya Waisak 2570 BE menjadi momentum spiritual yang sangat bermakna untuk meneguhkan komitmen kita dalam menebarkan cinta kasih dan menumbuhkan perdamaian dunia,” ujar Menag Nasaruddin Umar.
Menurut Menag Nasaruddin Umar, Waisak tidak hanya menjadi perayaan keagamaan umat Buddha, tetapi juga mengandung nilai-nilai universal yang relevan bagi seluruh umat manusia. Melalui peringatan tiga peristiwa suci dalam kehidupan Siddhartha Gautama, yakni kelahiran, pencapaian pencerahan, dan wafatnya, masyarakat diajak untuk merenungkan arah perjalanan hidup masing-masing.
“Mari kita meneladani tokoh-tokoh besar dunia yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam sejarah kemanusiaan, termasuk Siddhartha Gautama yang pada hari ini kita peringati melalui Hari Raya Waisak,” pesannya.
Wakil Kepala Wihara Ekayana Arama, Biksu Dharmavimala, yang mewakili Kepala Wihara Ekayana Arama Biksu Aryamaitri, mengatakan bahwa kehadiran Menteri Agama menunjukkan perhatian dan dukungan negara terhadap umat Buddha.
“Kehadiran Bapak Menteri Agama beserta para pejabat negara menunjukkan perhatian dan dukungan negara, sementara kehadiran para tokoh agama dan masyarakat mencerminkan kuatnya tali persaudaraan yang terjalin di antara kita,” kata Biksu Dharmavimala.
Lebih lanjut, dari keteladanan Buddha Gautama, Biksu Dharmavimala menjelaskan bahwa Waisak mengajarkan setidaknya tiga hal penting untuk menumbuhkan perdamaian.
Pertama, melepas ego dan menebar cinta kasih. “Ketika ego diperkecil, cinta kasih akan semakin besar. Ketika kita berhenti merasa diri paling benar, ruang untuk memahami dan menghargai orang lain akan terbuka. Dari sinilah perdamaian bermula,” pesannya.
Kedua, menyadari adanya saling ketergantungan. “Kita semua saling terhubung dan saling memengaruhi. Kedamaian dalam keluarga akan berdampak pada kedamaian di lingkungan, kedamaian di lingkungan akan berkontribusi pada kedamaian bangsa, dan kedamaian bangsa akan memberi dampak bagi perdamaian dunia,” lanjutnya.
Ketiga, bertindak dengan kebijaksanaan. “Perdamaian dunia tidak lahir dari pidato-pidato besar semata, tetapi dari tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan setiap hari, seperti menahan emosi saat marah, memaafkan ketika disakiti, serta menolong sesama tanpa pamrih,” kata dia.
Ia menegaskan bahwa sebagai bagian dari komitmen tersebut, Wihara Ekayana terus berupaya menjadi rumah yang menumbuhkan nilai-nilai Dharma, cinta kasih, dan kebijaksanaan, sekaligus menjadi ruang dialog lintas agama serta mitra pemerintah dalam merawat dan memperkuat kerukunan bangsa. (red)
- Apresiasi Umat Buddha Rawat Kerukunan Indonesia
- Biksu Dharmavimala
- Kemenag
- Kementerian Agama
- Kepala Wihara Ekayana Arama Biksu Aryamaitri Biksu Aryamaitri
- Menag Apresiasi Umat Buddha Rawat Kerukunan Indonesia
- Momentum Menag Apresiasi Umat Buddha Rawat Kerukunan Indonesia
- Waisak 2026 Momentum Menag Apresiasi Umat Buddha Rawat Kerukunan Indonesia
- Wakil Kepala Wihara Ekayana Arama Biksu Dharmavimala
- Wihara Ekayana Arama















