U

Nobar Film Pesta Babi  dan Diskusi Laudato Si’ Dorong Kaum Muda Katolik Menghidupi Kepedulian Sosial dan Ekologis Secara Kreatif

SekarangAja, MALANG– Semangat kepedulian terhadap lingkungan hidup, masyarakat adat, dan masa depan bumi mewarnai Nobar Film Pesta Babi  & Diskusi tentang Ensiklik Laudato Si’.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh AGORA (Ruang Diskusi Awam Katolik) serta didukung Ikatan Sarjan Katolik Malang (ISKA Malang) dan Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) pada Sabtu (23/5/2026) di Aula GSG Lt. 3, Kolese St. Yusup Borobudur, Malang ini mengusung tema “Membangun Kepedulian Awam Katolik pada Segala Bidang”.

Kegiatan ini  berlangsung hangat dan interaktif dengan dihadiri peserta dari kalangan mahasiswa, kaum muda Katolik, serta masyarakat umum. Diawali pemutaran film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, sebuah film yang mengangkat realitas masyarakat adat Papua yang menghadapi tekanan eksploitasi sumber daya alam, kerusakan lingkungan, dan ancaman terhadap tanah adat serta identitas budaya mereka.

Film tersebut menjadi pintu masuk refleksi bersama mengenai relevansi ensiklik Laudato Si’ di tengah berbagai persoalan sosial dan ekologis yang terjadi saat ini.

Antusiasme peserta tampak sepanjang kegiatan berlangsung. Para peserta mengikuti jalannya pemutaran film dengan serius, lalu terlibat aktif dalam sesi diskusi yang dipandu oleh dua narasumber, yakni RD  Biru Kira dan Engelbertus Kukuh Widijatmoko.

sekarangaja

Dalam pemaparannya, RD  Biru Kira yang saat ini bertugas di Papua membagikan pengalaman pastoral dan refleksinya mengenai kehidupan masyarakat Papua, khususnya relasi mendalam masyarakat adat dengan tanah, alam, dan budaya mereka.

Ia menegaskan bahwa persoalan ekologis di Papua tidak bisa dipisahkan dari persoalan kemanusiaan dan martabat masyarakat adat. Menurut Romo Biru Kira, kerusakan lingkungan yang terjadi akibat eksploitasi alam bukan hanya berdampak pada hilangnya hutan atau sumber daya, tetapi juga melukai identitas, sejarah, dan kehidupan masyarakat lokal yang selama ini hidup menyatu dengan alam.

“Papua bukan sekadar wilayah kaya sumber daya alam, tetapi rumah bagi manusia-manusia yang memiliki budaya, spiritualitas, dan relasi hidup yang kuat dengan tanahnya,” ungkapnya dalam sesi diskusi.

Ia juga mengajak kaum muda Katolik untuk memiliki keberanian moral dalam melihat berbagai persoalan sosial dan ekologis secara lebih kritis dan penuh empati. Menurutnya, semangat Laudato Si’ mengajak umat untuk mendengar “jeritan bumi dan jeritan kaum miskin” sebagai satu realitas yang saling berkaitan.

Sementara itu, Engelbertus Kukuh Widijatmoko memberikan perhatian khusus pada peran generasi muda dalam menghayati nilai-nilai Laudato Si’ secara kreatif dan kontekstual. Ia menekankan bahwa kepedulian terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada diskusi atau kesadaran pribadi, tetapi perlu diwujudkan dalam gerakan nyata yang dekat dengan kehidupan kaum muda.

Dalam pemaparannya, Kukuh mengajak peserta untuk melihat bahwa kreativitas generasi muda dapat menjadi sarana penting dalam membangun budaya peduli lingkungan, solidaritas sosial, dan gaya hidup yang lebih sederhana serta berkelanjutan.

Ia mencontohkan bahwa semangat Laudato Si’ dapat dihidupi melalui berbagai cara sederhana namun bermakna, mulai dari membangun komunitas peduli lingkungan, menggunakan media kreatif untuk edukasi sosial, hingga membiasakan pola hidup yang lebih bertanggung jawab terhadap bumi dan sesama.

Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai tanggapan dan pertanyaan dari peserta terkait isu lingkungan, masyarakat adat Papua, spiritualitas ekologis, hingga tantangan kaum muda di era modern. Suasana dialog yang terbuka membuat kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang belajar bersama, tetapi juga ruang refleksi iman yang relevan dengan realitas sosial saat ini.

Melalui kegiatan ini, AGORA dan ISKA Malang berharap semakin banyak kaum muda Katolik yang mampu menghidupi iman secara nyata di tengah masyarakat, terutama dalam membangun kepedulian terhadap lingkungan hidup, keadilan sosial, dan martabat manusia. Semangat Laudato Si’ diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi sungguh menjadi gerakan hidup yang diwujudkan dalam tindakan sehari-hari. (red)

Ini Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini

Sekarang

Sudah saatnya Indonesia Kiblat Ekonomi Syariah Dunia

Sekarang

Ini Prakiraan Cuaca Jakarta Hari Ini

Sekarang