U

Pak Mbois Luncurkan Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 saat HUT ke 112 Kota Malang

SekarangAja, MALANGBuku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 “Keanekaragaman Demografi & Keberlanjutan Makam Kolonial” diluncurkan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat di Balai Kota Malang, Rabu (1/4/2026) hari ini. Peluncuran buku yang mendeskripsikan tentang Makam Belanda yang dibangun pada masa Bouwplant III tersebut bertepatan dengan HUT ke 112 Kota Malang, hari ini.

Pak Mbois, sapaan akrab  Wali Kota Malang Wahyu Hidayat mengapresiasi kehadiran buku yang dilahirkan dari sebuah tempat perkuburan itu. “Saya menyampaikan selamat atas diterbitkannya Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 ini. Buku yang disusun dalam rangka menyemarakkan Hari Jadi Kota Malang ke-112, tentunya sarat akan nilai sejarah, pengetahuan serta refleksi tentang keberagaman sosial yang pernah membentuk wajah Kota Malang di masa lampau,” jelas Wahyu Hidayat.

Pak Mbois menyebut bahwa Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 tersebut tidak hanya mengajak menelusuri jejak sejarah melalui makam-makam colonial. Namun juga memberikan pemahaman mengenai demografi, budaya, serta warisan peradaban yang turut membentuk identitas kota hingga saat ini.  

Ia berharap, melalui Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 dapat menjadi sumber pengetahuan, referensi sekaligus inspirasi bagi generasi muda dan masyarakat luas untuk semakin mengenal, menghargai dan melestarikan jejak sejarah yang ada di Kota Malang.

Hal senada disampaikan Plh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Gamaliel Raymond Hatigoran Matondang. Selaku pimpinan instansi yang membawahi pengelolaan Makam Sukun, Ia menyambut baik terbitnya Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 ini.

“Buku ini menarasikan tentang sejarah Makam Sukun, tokoh dan cerita di balik sebuah pemakaman mulai kolonial, pendudukan Jepang hingga masa kemerdekaan,” ungkap Raymond.

Dikatakannya, kehadiran buku ini menjadi bukti bahwa sebuah tempat pemakaman bukanlah tempat yang suram dan menakutkan. Tetapi, tersimpan potensi yang dapat memberikan cakrawala pengetahuan yang dapat menambah khazanah sejarah lokal Kota Malang.

Sementara itu,  Hariani selaku penulis Buku Jelajah Kuburan Londo Jilid 2 membeberkan bahwa buku tentang pemakaman ini ditulis atas rasa cintanya pada sejarah Kota Malang.

“Kebetulan saya pernah menjadi tenaga administrasi di UPT Pengelolaan Pemakaman Umum dan ternyata di Makam Sukun menyimpan tabir sejarah yang belum banyak diungkap,” ujarnya.

Jika Buku Jelajah Kuburan Londo Jilid 1 merupakan buku pembuka, di Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 ini lebih dalam dan lebih fokus. “Ada sejarah Freemason di Kota Malang termasuk pergerakan yang dilakukan, tragedi Geger Mergosono, kejadian Petrus, pejuang dari Tionghoa, tokoh berpengaruh di Kota Malang hingga mengungkap kisah gelap di Bong Londo,” beber Hariani.

Baginya, Makam Sukun bukan semata tempat peristirahatan terakhir, namun dari tempat yang banyak dianggap sebagai ruang yang menakutkan menyimpan sejuta pengetahuan baik dari simbol makam, arsitektur, tokoh hingga puisi yang ditorehkan pada nisan.

Hariani berharap melalui Buku Jelajah Kuburan Londo dapat memberikan edukasi kepada masyarakat, menjadi sebuah strategi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya.

Terlebih gerbang Makam Sukun telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya. “Terpenting buku ini dapat memberikan nilai penting, menjadi strategi dalam upaya melestarikan Makam Sukun dan dapat meminimalisir aksi vandalisme,” tuturnya.

Gedeon Soerja selaku Pimpinan Media Nusa Creative (MNC) yang menerbitkan Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 menyampaikan bahwa Buku Jelajah Kuburan Londo Malang Jilid 2 adalah buku ikonik yang menceritakan sejarah lokal Kota Malang.

“Di sini penulis, menarasikan secara gamblang tentang peraturan-peraturan makam pada saat Malang pertama kali menjadi Gementee, menceritakan kedatangan Jepang yang ditandai dengan Monumen Jepang yanga ada di Makam Sukun hingga tokoh-tokoh pribumi yang memiliki peranan bagi perkembangan Kota Malang. Jadi, pada Buku Jelajah Kuburan Londo Jilid 2 ini lebih beragam. Tidak hanya menyajikan tentang kolonial namun juga mendeskripsikan masa pendudukan Jepang hingga masa kemerdekaan,” jelas Gedeon.

Menurutnya, upaya pengkajian dan dokumentasi yang dilakukan oleh penulis dapat memperkaya literasi sejarah khususnya Kota Malang serta dapat menjadi pemicu untuk meningkatkan kesadaran dalam merawat warisan budaya. “Buku ini cukup menarik untuk dibaca bagi yang penasaran dengan cerita di balik sebuah pemakaman,” pungkas Gedeon. (red)

Sekarang

Wilayah Jakarta Diprakirakan Diguyur Hujan Hari Ini

Sekarang