Wagub Johni Asadoma Menyapa Diaspora NTT di Bali, Bawa Pesan Menjaga Harmoni Sosial
SekarangAja, DENPASAR– Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyapa langsung diaspora NTT di Bali, Rabu (28/1/2026) kemarin. Rencananya kunjungan selama tiga hari ini, Wagub Johni Asadoma bertemu dan membuka ruang dialog bersama jajaran Pemkab Karangasem, Pemkab Badung, Pemkot Denpasar dan juga Pemprov Bali.
Dalam kunjungan ini, Wagub Johni Asadoma didampingi sejumlah pejabat Pemprov NTT. Di antaranya Plt Asisten Pemerintahan dan Kesra NTT, Kanis Mau, Staf Ahli Gubernur Bidang Politik dan Pemerintahan, Petrus Seran Tahuk, Kadis Nakertrans NTT, Sylvia Peku Djawang, Karo Administrasi Pimpinan Setda NTT, Prisila Parera, Karo Umum Setda NTT, Gusti Sigasare, dan Kaban Penghubung NTT, Taty Setyawati.
Turut hadir pula Bupati/Wakil Bupati se daratan Sumba. Dari jajaran legislatif Provinsi NTT, hadir di antaranya Chris Mboeik, Angela Merci Piwung, Lily Adoe, Jimur Siena Katrina, Ana Waha Kolin dan Reni Marlina.
Sementara sesepuh Diaspora NTT di Bali dihadiri Yusti Dias dan Ardi Ganggas selaku Penasehat Rumah Besar Diaspora NTT di Bali serta perwakilan berbagai paguyuban kabupaten/kota se NTT yang ada di Bali juga berbagai organisasi dan komunitas kepemudaan warga NTT di Bali.
Wagub Johni juga diagendakan menemui para tokoh masyarakat setempat, tokoh adat, tokoh agama, tokoh pemuda dan juga pihak-pihak terkait termasuk jajaran paguyuban keluarga Flobamora di Bali.
Di hari pertama kedatangannya di Denpasar – Bali, pada Rabu (28/1) malam, Wagub Johni Asadoma terlebih dahulu bersilaturahmi dan berdialog bersama Diaspora NTT yang ada di Bali.
Pada momentum tersebut ia menekankan bahwa dalam situasi apapun, pemerintah akan selalu hadir untuk bisa memberi solusi dan jalan keluar terhadap berbagai persoalan masyarakat dimanapun berada.
“Kami sekarang hadir di Denpasar Bali, karena situasi dan kondisi yang tidak sedang baik-baik saja. Namun fungsi pemerintah untuk dapat selalu hadir di tengah situasi apapun,” ujar Wagub Johni Asadoma.

Dihadapan warga Diaspora NTT di Bali, Wagub Johni juga berdialog dan mendengarkan langsung berbagai informasi yang berkembang. Termasuk masukan, kritik dan saran terkait perkembangan situasi dan kondisi terkini dari perwakilan organisasi dan paguyuban Diaspora NTT di Bali.
Wagub Johni menilai perilaku segelintir oknum telah berdampak luas dan merugikan para mahasiswa serta pekerja asal NTT di luar daerah. “Akibat ulah oknum-oknum ini, mulai muncul stigma negatif terhadap warga NTT di Bali juga sudah berkembang di daerah lain seperti di Surabaya dan Malang, mungkin juga di daerah – daerah lain. Kita tidak boleh tinggal diam, harus bersama menentukan langkah terbaik dan solusi agar citra NTT kembali pulih,” terangnya.
“Penting untuk ditegaskan bahwa tindakan segelintir oknum sama sekali tidak mencerminkan nilai dan jati diri budaya NTT secara keseluruhan. Namun secara sosiologis, setiap individu Diaspora membawa nama baik daerah asalnya. Satu tindakan yang keliru dapat berdampak luas dan mencoreng citra seluruh komunitas,” katanya.
Wagub Johni Asadoma pada kesempatan itu juga memaparkan berbagai analisa situasi yang tidak kondusif tersebut dimulai dari latar belakang permasalahan, identifikasi masalah, faktor pemicu, upaya mitigasi serta alternatif solusi.
Wagub Johni menjelaskan, secara historis Bali dan NTT bukan sekadar bertetangga secara geografis dalam gugusan Kepulauan Sunda Kecil, melainkan dua wilayah yang dipersatukan oleh benang merah sejarah, kemiripan lanskap sosio-ekologis, serta semangat kekeluargaan yang kuat.
Ia menerangkan bahwa bagi masyarakat NTT, Bali kerap dipandang sebagai rumah kedua atau tempat mencari nafkah, menempuh pendidikan, dan membangun masa depan.
“Akulturasi budaya NTT – Bali sudah terbangun kurang lebih sejak 70 tahun yang lalu. Namun dalam beberapa waktu terakhir, relasi harmonis tersebut diuji oleh sejumlah peristiwa yang melibatkan oknum warga Diaspora NTT yang mungkin belum mampu beradaptasi, menyesuaikan diri dan menghargai aturan dan norma-norma daerah setempat sehingga terjadi konflik dan memunculkan sentimen negatif di ruang publik,” jelas Johni.
“Dalam konteks ini, menjaga harmoni tidak lagi cukup dipahami sebagai sekadar imbauan, melainkan telah menjadi kewajiban moral dan kultural yang mendesak bagi kita semua. Dan untuk memahami pentingnya harmoni tersebut, kita perlu menilik akar budaya kedua belah pihak. Masyarakat Bali hidup dalam naungan filosofi Tri Hita Karana, yakni keseimbangan relasi antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai ini membentuk karakter sosial Bali yang menjunjung tinggi ketenangan, ketertiban, serta ketaatan pada norma adat,” tambahnya.
Di sisi lain, dijelaskan Wagub Johni Asadoma, masyarakat NTT yang terhimpun dalam semangat Flobamora – Flores, Sumba, Timor, dan Alor dikenal memiliki karakter yang egaliter, ekspresif, serta solidaritas sosial yang sangat kuat.
“Budaya kita menjunjung tinggi harga diri dan keberanian, namun pada saat yang sama juga mengajarkan etika hidup yang menempatkan penghormatan terhadap sesama sebagai nilai utama. Ketegangan yang muncul kerap kali bukan disebabkan oleh perbedaan nilai dasar, melainkan oleh perbedaan cara mengekspresikan nilai tersebut. Sehingga, kunci harmoni terletak pada kemampuan warga Diaspora NTT untuk melakukan akulturasi secara bijak, beradaptasi dengan lingkungan setempat tanpa kehilangan jati diri dan martabat budayanya,” jelas Johni.
Oleh karena itu, menurut Wagub Johni Asadoma, menjaga harmoni di Bali menuntut sikap yang lebih proaktif, dewasa, dan kolaboratif dari seluruh warga diaspora NTT.
Beberapa langkah krusial juga dijelaskan Wagub Johni untuk terus diperkuat. Antara lain reaktualisasi filosofi “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.” Warga diaspora perlu menyadari bahwa Bali memiliki kedaulatan adat yang sangat kuat. Menghormati tradisi lokal, menaati aturan banjar, serta berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggal merupakan bentuk adaptasi yang bermartabat.
Adaptasi bukanlah kehilangan jati diri, melainkan wujud penghormatan kepada tuan rumah.
Selain itu, penguatan peran organisasi dan paguyuban diaspora. Organisasi seperti Flobamora Bali memiliki posisi strategis sebagai jembatan komunikasi sekaligus ruang pembinaan. Paguyuban tidak cukup hanya menjadi wadah kebersamaan, tetapi juga harus berfungsi sebagai sarana edukasi hukum, penguatan etika bermasyarakat, dan kontrol sosial bagi anggotanya.
Juga pengembangan komunikasi dialogis dengan otoritas lokal. Relasi yang baik dengan Pecalang, tokoh adat, dan aparat keamanan merupakan langkah preventif yang sangat penting.
Setiap potensi gesekan hendaknya diselesaikan melalui dialog dan mediasi, bukan melalui pengerahan massa. Budaya duduk bersama untuk mencari solusi harus terus dikedepankan.
Penguatan narasi kontribusi positif diaspora NTT. Warga NTT telah berkontribusi nyata dalam berbagai sektor di Bali, mulai dari konstruksi, pariwisata, hingga UMKM. Kisah kerja keras, prestasi, dan kontribusi positif ini perlu lebih sering ditampilkan untuk menyeimbangkan pemberitaan negatif. Diaspora NTT harus terus membuktikan bahwa kehadirannya merupakan aset bagi kemajuan Bali. Karena pada akhirnya, warga NTT di Bali adalah wajah NTT yang dilihat oleh masyarakat luas, bahkan oleh dunia internasional.
Selain itu, Wagub Johni Asadoma juga meminta dan menekankan agar adminsitrasi kependudukan harus gencar disosialisasikan oleh pemda se-NTT agar ketika masyarakat hendak ke luar daerah dengan berbagai tujuan baik menempuh pendidikan atau bekerja dapat terpantau dan terdata secara baik dan akurat. Hal ini menurutnya akan menekan dan meminimalisir terjadinya tindakan-tindakan yang melanggar hukum.
“Segera kita nanti harus kuatkan dengan regulasi dan kiranya DPRD harus dukung. Dan ini harus tegas, supaya setiap warga kita yang mau ke luar daerah harus wajib lapor baik daerah asal maupun daerah tujuan. Di daerah tujuan warga NTT wajib lapor ke RT setempat sebagai perwakilan pemerintah di tingkat paling bawah. Jika ini tertib kita lakukan, saya rasa bisa kita cegah hal-hal yang berpotensi melanggar,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa sikap Pemerintah Provinsi NTT akan selalu konsisten dalam mendukung penegakan hukum terhadap siapapun tanpa terkecuali termasuk oknum warga NTT yang membuat keonaran, tindakan pidana, kerusuhan atau aksi-aksi kriminal diberbagai daerah.
Tidak lupa, Wagub Johni Asadoma juga menyampaikan permohonan maaf terhadap pemerintah dan masyarakat Bali atas ketidaknyaman akibat sejumlah perbuatan yang tidak menyenangkan dan meresahkan akibat perlakuan oknum-oknum diaspora NTT belakangan ini.
“Melalui momentum ini, saya atas nama pemerintah dan masyarakat NTT, kami juga menyampaikan permohonan maaf kepada pemerintah maupun masyarakat Bali yang merasa terganggu dan sangat resah terhadap tutur kata maupun perilaku sekelompok kecil warga kami yang ada di Bali. ” ungkap Wagub Johni.
Sebelumnya Penasehat Rumah Besar Diaspora NTT di Bali Ardi Ganggas mengapresiasi kehadiran Wakil Gubernur NTT beserta jajaran di Bali. Senada dengan apa yang diucapkan Wagub NTT, Ia mengungkapkan bahwa situasi yang kurang kondusif yang belakangan terjadi perlu dibereskan segera agar tidak menimbulkan dampak yang lebih luas lagi.
“Kehadiran Bapak dan jajaran dari Kupang juga para Bupati / Wakil Bupati dari Sumba membuktikan bahwa pemerintah hadir dalam tiap situasi. Kita juga harapkan bersama melalui dialog, komunikasi dengan Pemda di Bali dan para tokoh masyarakat setempat semua situasi ini dapat kita pulihkan kembali,” ucapnya.
Pada akhirnya, harmoni antara warga diaspora NTT dan masyarakat Bali adalah sebuah tenunan sosial yang hanya dapat bertahan apabila setiap utasnya dijaga dengan kesadaran dan tanggung jawab bersama.
Tantangan yang muncul dari berbagai kasus hukum dalam beberapa waktu terakhir hendaknya kita maknai sebagai momentum refleksi diri dan otokritik yang konstruktif. (Siaran Pers Biro Administrasi Pimpinan Setda Provinsi NTT/red)















