Tim Akademisi Universitas Ma Chung Hadirkan Inovasi Mesin Pemarut Tepat Guna untuk Tingkatkan Produktivitas UMKM Kerupuk Singkong Batu
SekarangAja, MALANG– Upaya pemberdayaan UMKM terus digelorakan perguruan tinggi melalui penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi. Salah satunya dilakukan tim dosen dari Universitas Ma Chung Malang hadir memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan usaha masyarakat dengan mendampingi UMKM Kerupuk Singkong Rasa Prima di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu.
Langkah nyata ini diwujudkan melalui perancangan dan revitalisasi mesin pemarut singkong berbasis teknologi tepat guna. Inovasi pengabdian masyarakat ini digawangi oleh tim akademisi Universitas Ma Chung yang dipimpin Dr Yurida Ekawati selaku Ketua Pelaksana, bersama Dr Purnomo dan Dr Sunday Noya sebagai anggota tim, serta melibatkan mahasiswa Teknik Industri Universitas Ma Chung
Jawab Tantangan Lonjakan Permintaan Pasar
UMKM Rasa Prima yang dikelola Kasnu merupakan industri rumahan pembuat kerupuk singkong mentah dengan beragam varian rasa, seperti original, balado, balado terong, dan udang. Dijual dengan harga Rp 20.000 per kilogram secara curah, produk kerupuk mentah ini banyak diminati pelanggan untuk digoreng maupun dipasarkan kembali.
Namun meningkatnya permintaan pasar membuat UMKM Rasa Prima kewalahan akibat keterbatasan kapasitas produksi. Kendala utama terletak pada proses awal pemarutan singkong, di mana mesin lama berdaya 3 HP mengalami penurunan kinerja dan membutuhkan waktu 1,5 jam untuk memarut 2,25 kuintal singkong, atau setara dengan produktivitas 1,5 kuintal per jam.
Selain lambat, hasil parutan mesin lama kurang merata sehingga sebagian bahan baku terbuang. Melihat permasalahan tersebut, tim pengabdian masyarakat Universitas Ma Chung mengambil langkah cepat.
“Peningkatan kapasitas produksi dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan pembaruan mesin pemarut singkong, mengingat pemarutan adalah proses awal yang sangat menentukan kelancaran seluruh tahapan produksi,” kata Dr Yurida Ekawati.
Kolaborasi dan Sentuhan Teknologi Tepat Guna

Pengembangan mesin pemarut anyar ini dirancang dengan mempertimbangkan efektivitas biaya serta higienitas produk pangan. Dalam proses pembuatannya, Dr Purnomo mengoordinasikan pemanfaatan komponen mesin lama milik mitra yang masih layak, seperti besi siku bekas mesin giling untuk rangka, lalu memadukannya dengan komponen baru. Mesin baru ini dibekali motor penggerak bensin Tesla CX 160 berdaya 5,5 HP. Bagian corong masuk (hopper) berkapasitas 21 dm³ serta silinder pisau parut berdiameter 9 cm dan panjang 30 cm dibuat dari bahan stainless steel agar higienis dan tidak bereaksi dengan bahan makanan.
Pengerjaan mesin dilakukan bersama workshop lokal di Kota Batu, dilanjutkan dengan pengujian dan modifikasi berupa penambahan papan penghalang untuk mencegah cipratan parutan.
Pendampingan diperkuat oleh Dr Sunday Noya pada aspek proses produksi, serta empat mahasiswa Teknik Industri Universitas Ma Chung yang ikut menganalisis perbaikan sistem kerja penataan kerupuk pada tampah penjemuran.
Lonjakan Produktivitas dan Dampak Operasional
Hasil uji coba dan penerapan mesin baru menunjukkan peningkatan kinerja yang signifikan. Waktu pemarutan untuk 2,25 kuintal singkong kini berkurang dari 1,5 jam menjadi hanya 1 jam, yang berarti produktivitas pemarutan melonjak dari 1,5 kuintal per jam menjadi 2,25 kuintal per jam.
Mesin ini juga hemat energi, hanya membutuhkan sekitar tiga liter pertalite untuk operasional dua jam. Peningkatan efisiensi ini berdampak langsung pada rantai produksi. Karena pemarutan selesai lebih cepat, proses selanjutnya, seperti pencampuran adonan, pengukusan, penggilingan, dan pencetakan, dapat dimulai lebih awal.
Hal ini memungkinkan kerupuk mentah dijemur di bawah sinar matahari lebih pagi, sehingga produk dapat kering sempurna dalam sehari selama cuaca cerah.
Wujud Komitmen Universitas Ma Chung bagi Masyarakat
Kegiatan pengabdian masyarakat ini didanai melalui skema Ma Chung Abdimas Grant (MAG) tahun 2026 yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dan Inovasi (LPPMI) Universitas Ma Chung. Hibah internal ini menjadi wujud nyata komitmen perguruan tinggi dalam menjembatani riset akademis dengan kebutuhan riil sektor usaha mikro.
Melalui sinergi yang berkelanjutan, LPPMI mendorong para akademisi untuk memformulasikan solusi aplikatif bagi permasalahan industri rumahan. Program pendampingan ini tidak hanya memperkuat efisiensi operasional mitra, tetapi juga menciptakan dampak sosial-ekonomi yang luas. Ke depan, alokasi pendanaan strategis ini diharapkan dapat terus berlanjut guna mempercepat proses modernisasi berbasis teknologi tepat guna menuju kemandirian ekonomi daerah. (sadw/red)















