U

Senangnya Sinau Budaya di Kampung Budaya Polowijen

SekarangAja, MALANG- Kampung Budaya Polowijen (KBP) salah satu aset budaya Kota Malang. Selain menjadi pusat kegiatan budaya juga dapat dijadikan pusat edukasi budaya. Bahkan  siapapun bisa “sinau” setiap hari.

Itu terlihat salah satunya pada pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) tahun 2026 di Kampung Budaya Polowijen (KBP), Kota Malang.

Selama hampir sepekan, mahasiswa tidak hanya menjalankan program kerja sesuai divisi. Namun   secara konsisten mengikuti sinau budaya setiap hari bersama para budayawan Malang.

“Sinau budaya di KBP menghadirkan materi seputar tradisi adat istiadat, ritus kehidupan, seni, dan kebudayaan Malang,” papar Isa Wahyudi atau yang akrab dikenal dengan nama Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen.

Pola pembelajaran berlangsung dialogis dan berbasis praktik budaya hidup, menjadikan kampung sebagai ruang belajar aktif, bukan sekadar lokasi pengabdian.

Pada Sabtu, 31 Januari 2026 lalu, kata Ki Demang, sinau budaya mengangkat tema “Model Transformasi Budaya untuk Generasi Gen-Z” yang disampaikan oleh Ary Sulistyowati, Guru Sejarah dan Sosiologi SMA Sugiyopranata Kota Pasuruan sekaligus anggota Perempuan Bersanggul Nusantara.

Ia menyoroti kegamangan generasi muda dalam melestarikan budaya yang lebih disebabkan oleh keterbatasan ruang pengenalan dan pengalaman, bukan karena tidak peduli. Minimnya peran keluarga, terbatasnya pembelajaran budaya di sekolah, serta lingkungan yang kurang mendukung menjadi faktor utama keterputusan generasi muda dengan tradisinya.

Keseruan sinau budaya juga terasa sebelum sesi utama, saat mahasiswa KKN berlatih menari selama hampir dua jam di panggung KBP bersama ibu-ibu kampung, mempelajari tari tradisi Gambyong “Mari Kangen”.

“Suasana latihan berlangsung hangat, meriah, dan penuh tawa, terutama bagi peserta yang baru pertama kali menari, memperlihatkan bahwa budaya dapat dipelajari dengan cara yang menyenangkan dan inklusif,” tegas Ki Demang.

Gizela Putri Ningtyas, guru tari KBP, mengungkapkan antusiasme mahasiswa yang aktif bertanya tentang proses latihan, dinamika pengelolaan sanggar, hingga tantangan melestarikan tari tradisional. Meski penari KBP menguasai berbagai tari topeng dan kerap tampil di banyak acara, pelestarian tari tradisi tetap menghadapi tantangan karena minimnya minat generasi muda dan kalah pamor dibanding tari kreasi yang lebih dinamis dan glamor.

Diskusi kritis juga muncul dari Shela Putri Retensya, mahasiswi Ilmu Komunikasi, yang mempertanyakan strategi promosi KBP agar lebih mengena ke Gen-Z.

Menurutnya, konten KBP selama ini terkesan stagnan, padahal aktivitas budayanya sangat kaya. Pertanyaan ini menegaskan bahwa pelestarian budaya hari ini tidak hanya bertumpu pada panggung dan ritus, tetapi juga pada kemampuan bercerita dan bertransformasi di ruang digital. (cia)

Jakarta Diprakirakan Hujan Merata Hari Ini

Sekarang

Senangnya Sinau Budaya di Kampung Budaya Polowijen

Sekarang

Jakarta Diprakirakan Hujan Merata Hari Ini

Sekarang