Perkuat Pasar Pariwisata Afrika Utara, Indonesia-Aljazair Jajaki Kolaborasi
SekarangAja, JAKARTA- Delegasi Majelis Rakyat Nasional (APN) Aljazair berkunjung ke Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Pertemuan ini langkah awal memperkuat kerja sama pariwisata. Ini sekaligus mempererat hubungan persahabatan antara Indonesia dan Aljazair.
Rombongan Ketua APN Aljazair Mohamed Yazid Benhemmouda beserta jajaran dan perwakilan Kedutaan Besar Aljazair diterima oleh Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa.
Wamenpar Ni Luh Puspa mengatakan pertemuan perdana ini membuka peluang kolaborasi yang dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya pelaku pariwisata, UMKM, pemandu wisata lokal, hingga investor.
Data pascapandemi COVID-19 menunjukkan arus wisatawan Aljazair ke Indonesia tumbuh sekitar 25 persen. Kondisi tersebut seiring dengan meningkatnya volume perdagangan kedua negara.
“Hal ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat pasar Afrika Utara dan pengembangan wisatawan muslim, sekaligus mendorong transfer pengetahuan melalui keberadaan enam politeknik pariwisata di bawah naungan Kementerian Pariwisata,” kata Wamenpar Ni Luh Puspa.
Dalam pertemuan tersebut, pihak Aljazair menyampaikan ketertarikan untuk mempelajari rekam jejak Indonesia dalam mengelola wisata religi dan wisata alam. Ini dua sektor yang juga menjadi fokus pengembangan pariwisata di negaranya.
Kesamaan visi membuka ruang kolaborasi strategis untuk meningkatkan kunjungan wisatawan melalui penawaran pengalaman yang unik dan saling melengkapi antara negara maritim dan negara kontinental gurun.
“Indonesia dan Aljazair juga memiliki keselarasan dalam pengembangan wisata budaya,” kata Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa.
Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata Martini Mohammad Paham mengatakan, meskipun kerja sama masih berada pada tahap awal, pertemuan ini menjadi fondasi penting dalam menyiapkan promosi pariwisata yang berkelanjutan.
“Arah kerja sama ke depan akan difokuskan pada dukungan kebijakan dari badan legislatif dan parlemen kedua negara, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif bagi pengusaha untuk membangun ekosistem pariwisata yang berdaya saing global,” ujar Martini. (red)















