Pemetaan Talenta Seni Berbasis Data
JAKARTA– Pemetaan sumber daya manusia (SDM) kebudayaan dan manajemen talenta diseriusi Kementerian Kebudayaan. Bahkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon memimpin langsung rapat pembahasan pemetaan SDM kebudayaan dan manajemen talenta di Gedung E Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Pembahasan ini difokuskan pada upaya membangun sistem pemetaan talenta seni yang lebih terukur, objektif, dan dapat menjadi dasar kebijakan pengembangan kebudayaan ke depan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan bahwa pemetaan SDM kebudayaan perlu dilakukan secara menyeluruh dan sistematis. Ia menilai pendekatan berbasis data penting agar pengembangan talenta tidak lagi dilakukan berdasarkan asumsi semata, sekaligus membuka peluang kerja sama yang lebih luas ke depan.
Dalam rapat tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mendengarkan paparan hasil pemetaan talenta seni yang telah dilakukan oleh ESQ Group pada tiga sekolah percontohan.
Founder ESQ Group Ary Ginanjar menjelaskan pemetaan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan enam bulan sebelumnya dan dilakukan melalui pengisian Talent DNA kepada siswa SMA Labschool Kebayoran, SMPN 1 Megamendung, dan SMAN 31 Jakarta.
“Objektif pengisian DNA ini adalah memfasilitasi siswa untuk menggali minat, bakat, dan potensi talenta seni, lalu melakukan seleksi untuk mengidentifikasi potensi seni yang paling menonjol sebagai dasar pembinaan lanjutan,” kata Ary Ginanjar.
Ia menjelaskan bahwa pemetaan ini mencakup enam bidang seni. Mulai dari seni pertunjukan, seni rupa, desain, kriya, sastra, hingga seni media, film, dan animasi.
Ary Ginanjar juga menjelaskan bahwa pendekatan Talent DNA melihat Drive Network Action setiap individu. “Motif manusia itu berbeda-beda, cara bergaulnya juga berbeda. Dari situ kita bisa melihat kecenderungan potensi, termasuk siapa yang kuat di seni, matematika, fisika, riset, dan lainnya” ujarnya.
Paparan hasil riset dilanjutkan oleh Dwitya Agustina selaku Vice President ESQ Group yang menjelaskan bahwa dari 870 siswa yang dipetakan, potensi seni tersebar relatif merata di berbagai bidang.
“Setiap sekolah menunjukkan pola keunggulan yang berbeda, sehingga pembinaan tidak bisa diseragamkan dan harus berbasis data,” jelasnya.
Dwitya juga menekankan peran guru dalam proses ini. Guru seni harus mengenal potensi muridnya. ‘’Guru juga perlu memahami Talent DNA murid-muridnya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mayoritas siswa memiliki gaya belajar kinestetik dan auditori, sehingga proses pembinaan seni perlu lebih banyak berbasis praktik dan simulasi.
Menanggapi paparan tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya menempatkan seni setara dalam pembangunan talenta nasional.
“Pemerintah berencana akan mengedepankan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) kedepannya. Itu bisa ditambahkan menjadi STEAM, dengan menambahkan arts di dalamnya,” ujar Menteri Fadli Zon.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon juga menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kompetensi non-akademik. Ia mencontohkan banyak maestro dan pelaku budaya yang keahliannya lahir dari pengalaman panjang, bukan dari pendidikan formal.
“Ada orang yang sekolahnya tidak tinggi, tapi sudah sangat mahir di bidangnya. Itu juga bentuk kompetensi yang harus kita hargai,” katanya.
Mengakhiri pertemuan, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan bahwa pemetaan talenta berbasis Talent DNA memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas.
“Kalau ini menjadi program nasional, kita bisa mengetahui bakat terpendam siswa di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan terus berupaya untuk membangun sistem manajemen talenta kebudayaan berbasis data, berorientasi pada potensi, serta mendukung pembinaan seni yang berkelanjutan dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Ke depan, hasil pemetaan ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan kebijakan dan program pembinaan kebudayaan yang lebih tepat sasaran, baik di tingkat pusat maupun daerah. (red)















