U

Pasar Monolog #4 KBKB Malang Tarik 300 Penonton, Perkuat Ruang Ekspresi Seni Pertunjukan

SekarangAja, MALANG- Gelaran Pasar Monolog #4 yang diinisiasi Kelompok Bermain Kangkung Berseri (KBKB) Malang sukses digelar di Amphitheater Malang Creative Center (MCC), Sabtu (24/1/2026). Gelaran ini menarik perhatian luas publik dengan kehadiran sekitar 300 penonton dari berbagai kalangan. Mulai dari komunitas seni, akademisi, mahasiswa, pelajar, hingga masyarakat umum.

Sejak awal acara, suasana pertunjukan tampak semarak. Penonton memenuhi area amphitheater dan menyimak setiap penampilan dengan antusias.

Tepuk tangan panjang kerap terdengar usai para aktor menuntaskan monolognya, menandakan kuatnya keterlibatan emosional penonton sepanjang pementasan.

Dengan tema “Satu Panggung, Banyak Suara, dan Kisah-Kisah yang Menggugah”, Pasar Monolog #4 menampilkan tujuh monologis dari beragam latar profesi dan generasi. Masing-masing penampil menyuguhkan naskah monolog yang unik dan penuh pesan, di antaranya:

Suatu Hari di Hidup Seorang Hakim oleh Dr. M. Fatoni R., M.Pd, Pahlawan di Negeri Para Hantu oleh Dr. Mustofa Kamal, S.Pd., M.Sn, Niskala oleh Dr. M. Zaeni, M.Pd. Langit Markeso oleh Dohir “Sindu” Herliato Raiasu Risau oleh Agus Fauzi Rhomadhon. Bicara (adaptasi dari Pengakuan Dedes) oleh Ning Naila Ali, Jawaban oleh Januari Kristiyanti

Pimpinan Produksi Pasar Monolog, Andrean Fahreza Nur Wicaksana, mengatakan tingginya antusiasme penonton menjadi indikator positif bagi perkembangan seni pertunjukan, khususnya teater monolog.

“Kami melihat respons yang sangat baik dari masyarakat. Kehadiran sekitar 300 penonton menunjukkan bahwa monolog masih memiliki ruang yang kuat sebagai medium ekspresi, refleksi, sekaligus kritik sosial,” ujar Andrean.

Ia menjelaskan, Pasar Monolog tidak hanya dirancang sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga sebagai forum dialog terbuka antara seniman dan publik.

“Konsep pasar kami maknai sebagai ruang temu yang egaliter. Di sini, seniman dan penonton berada dalam posisi setara untuk saling bertukar gagasan dan pengalaman,” tambahnya.

Pasar Monolog #4 menghadirkan tujuh karya monolog dengan tema yang beragam, mulai dari isu kemanusiaan, realitas sosial, hingga konflik batin manusia. Karya-karya tersebut dibawakan oleh para penampil lintas generasi dengan pendekatan artistik yang berbeda-beda, sehingga menghadirkan dinamika pertunjukan yang kuat.

Selain pertunjukan, acara ini juga dirangkai dengan sesi diskusi dan bedah karya yang dipandu Candra R.W.P., SS. S. Pd., M.A., dengan pengulas Dr. Tengsoe Tjahjono, M.Pd. Dalam sesi tersebut, penonton diajak memahami proses kreatif, pendekatan artistik, serta pesan sosial yang terkandung dalam setiap monolog.

Dr. Tengsoe menekankan, kegiatan seperti Pasar Monolog memiliki peran penting dalam ekosistem seni pertunjukan di Malang. Dia menyebut, monolog merupakan suatu pertunjukan teater yang berpusat satu aktor.

“Satu aktor itu satu suara, satu ruang, satu persoalan yang mereprespentasikan bahwa kehidupan manusia saat ini di Indonesia seolah harus menyelesaikan persoalan sendiri, tidak ada gerakan bersama, tidak ada kepedulian. Kita sebagai manusia yang menghadapi persoalan harus menyelesaikan sendiri, monolog itu menjelaskan pergulatan pribadi yang harus diselesaikan sendiri,” urainya.

Tengsoe memaparkan, secara umum, Malang pada tahun 80-an memiliki banyak komunitas teater baik di luar maupun dalam kampus. Bahkan bisa disebut Malang menjadi barometer kehidupan panggung seni teater.

“Tapi situasi itu kan kurang tampak saat ini. Aktivitas teater baik dalam konteks pergumulan di komunitas atau panggung di Malang sangat kurang,” sebutnya.

Menurut dia, monolog sebagai bagian teater yang dimainkan satu tokoh menjadi semacam dasar seni tubuh. Kalau orang ingin sukses di bidang seni peran, lanjutnya, maka dimulai dari kemampuan monolog.

“Saya melihat teman-teman yang tampil di panggung ini membuktikan bahwa Malang punya potensi,” tegasnya.

Meski demikian, Tengsoe menyebut masih ada pekerjaan rumah untuk memaksimalkan potensi seni pertunjukan di Malang. Salah satunya adalah keterlibatan masyarakat hingga pemerintah.

“Masyarakat dan pemerintah diharapkan bisa merespons dan memberi ruang. Diperlukan kegiatan seperti ini, perhatian tidak hanya di bidang klasik atau tradisi, teman-teman seperti ini harus diberi ruang dan difasilitasi. Ini kan kerja budaya, kalau pemerintah sebagai pemegang kebijakan tidak peduli maka ini ironis sekali,” sebutnya. 

Kesuksesan Pasar Monolog #4 sekaligus menegaskan konsistensi KBKB Malang dalam menghadirkan ruang seni yang inklusif dan berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, KBKB terus mendorong tumbuhnya apresiasi masyarakat terhadap seni pertunjukan sekaligus memperkuat ekosistem teater di tingkat lokal maupun nasional. (red)

Jakarta Diprakirakan Hujan Hari Ini

Sekarang

Jakarta Diprakirakan Hujan Hari Ini

Sekarang