U

Ngompres Politik: Dari Intro ke Action, DBI Dorong Warga Berpikir Kritis di Era Informasi

SekarangAja, MALANG Inisiatif literasi politik kembali digelorakan melalui kegiatan “Ngompres Politik: Dari Intro ke Action”. Kegiatan yang diselenggarakan Dosen Blankon Institute (DBI) bekerja sama dengan Graha Inspirasi ini  berlangsung, Kamis (5/3/2026) hari ini.

Event  ini menghadirkan Founder DBI, Kukuh Widijatmoko, yang juga dosen Universitas PGRI Kanjuruhan Malang sebagai narasumber utama. Kukuh mengajak peserta memahami dinamika politik secara lebih jernih di tengah banjir informasi digital.

Acara menarik tersebut dirancang dalam dua sesi diskusi yang santai namun reflektif. Sesi pertama mengangkat tema “KEPO: Kenali Potensi dan Obrolin”. Melalui tema ini, peserta diajak memahami rasa ingin tahu sebagai pintu masuk literasi politik. Setelah jeda coffee break, sesi kedua dilanjutkan dengan tema “FOMO: Balapan Update Isi Kepala”, yang menyoroti fenomena masyarakat yang sering terjebak dalam arus informasi cepat tanpa proses refleksi kritis.

Menurut Kukuh Widijatmoko, kegiatan ini lahir dari kegelisahan melihat masyarakat yang semakin aktif berbicara tentang politik, tetapi sering kali belum dibarengi dengan kedalaman perspektif.

“Banyak orang hari ini sangat cepat bereaksi terhadap isu politik karena media sosial. Tetapi reaksi tanpa perspektif sering hanya menghasilkan kebisingan, bukan pemahaman. Ngompres Politik kami rancang sebagai ruang untuk menenangkan pikiran, menguji informasi, dan melatih cara berpikir sebelum bertindak,” ujar Kukuh.

Ia menambahkan bahwa pendekatan “ngompres” dimaksudkan sebagai metafora proses berpikir yang menurunkan panas emosi publik dalam membaca isu politik.

“Ngompres politik bukan berarti membuat orang apatis terhadap politik. Justru sebaliknya. Ini cara untuk membangun warga yang kritis, tidak mudah terseret emosi, dan mampu mengubah pengetahuan menjadi tindakan yang bertanggung jawab,” tambahnya.

Melalui forum ini, DBI berharap peserta tidak hanya memahami isu politik secara permukaan. Namun juga mampu membaca konteks sosial, struktur kekuasaan, serta dampak informasi digital terhadap opini publik.

Kegiatan ini juga dikemas dalam format diskusi interaktif agar peserta dapat berbagi pengalaman, mempertanyakan fenomena politik sehari-hari, serta menguji gagasan secara terbuka.

Dengan pendekatan yang ringan namun reflektif, Ngompres Politik diharapkan menjadi ruang literasi politik alternatif bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mengembangkan cara berpikir kritis sekaligus membangun budaya dialog yang sehat dalam kehidupan demokrasi. (red)

Sekarang