U

Kisah Perjuangan Maria Septiani Sintia Koda, Atlet Kempo Asal NTT Harumkan Kota Malang

SekarangAja, MALANG- Namanya Maria Septiani Sintia Koda. Dari Manggarai, NTT  merantau ke Malang untuk menggapai asa. Ia bermodal semangat, perjuangannya pantang mundur.  Proses tak mengkhianati hasil. Alumnus SMAN 1 Langke Rembong inikini membanggakan tanah kelahirannya di NTT dan Kota Malang tempatnya memperjuangkan cita-cita.

Selain sebagai mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM), Maria adalah atlet Kempo. Ia dikenal karena memiliki catatan prestasi level nasional. Hari-harinya juga aktif melatih dan regenerasi atlet kempo di Kota Malang.

Sejak duduk di bangku sekolah, Maria sudah berjuang keras. Belajar, berlatih dan membantu orang tua di rumah. Itulah hari-harinya.

Dia mulai menggeluti bela diri asal Jepang tersebut sejak tahun 2015. Itu kala masih duduk di bangku SMP. Saat itu, seni bela diri dengan nama asli Shorinji Kempo ini merupakan ekstrakurikuler baru di sekolahnya.  Maria menganggap kempo telah mengajarkannya banyak hal. Di antaranya prestasi bukan hasil instan. Namun buah dari kesabaran, konsistensi, dan keberanian bertahan di saat paling sulit sekalipun.

Rasa penasaran membawanya mencoba, lalu perlahan jatuh cinta terhadap kempo. Dari latihan demi latihan, perempuan 23 tahun ini menemukan banyak hal. Mulai dari teknik bela diri hingga  keluarga baru.

Kempo, menurut dia tak sekadar melatih fisik, tetapi juga kognitif dan afektif. Yakni melatih berpikir, membangun disiplin, serta membentuk karakter. Tekniknya yang unik dan aplikatif membuatnya yakin bela diri ini bukan sekadar hobi.

Maria remaja pun melewati tantangan ketika menekuni jalan barunya itu. Ia harus meyakinkan orang tuanya bahwa latihan Kempo yang ditekuninya tak mengganggu proses belajar di sekolah.

‘’Ya orang tua sempat khawatir sekolah saya terganggu. Tapi saya meyakinkan orang tua sekolah berjalan lancar,’’ kenangnya.

Maria sudah terlanjur senang menekuni Kempo. Kepercayaan orang tua dijaganya. Ia tak lalai. Bela diri ini justru menumbuhkan fokus bagi dirinya.

Satu per satu tantangan datang menghampirinya. Ini termasuk ketika Maria  mengikuti lomba pertama di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Saat itu, dia langsung kalah di laga awal. Kekalahan itu tak menyurutkan semangatnya. Maria menganggap itu bukan  kegagalan. Dia memaknai sebagai keberhasilan yang tertunda.

Dua tahun kemudian, kegagalan itu membuahkan hasil.  Pada 2017, Maria  meraih juara satu Porprov NTT. Ia sekaligus juara di kompetisi kempo level nasional yang diselenggarakan di Jakarta. Prestasi ini  titik balik kepercayaan dirinya sebagai atlet.

Perjalanan panjang itu terus berlanjut hingga bangku kuliah di Universitas Negeri Malang (UM). Maria mengakui motivasi dalam menggeluti kempo di jenjang ini tidak selalu stabil.

Ada masa naik dan turun. Namun saat semangat meredup, ia tidak berhenti. Dia  memilih mencari suasana baru tanpa meninggalkan latihan. Dukungan teman-teman dojo yang sportif dan pelatih yang sabar menjadi bahan bakar utama untuk terus bertahan.

“Ketika dipercaya membela Kota Malang, saya mulai memahami bahwa prestasi bukan hanya soal medali, tetapi tentang manajemen waktu, disiplin ekstrem, dan tanggung jawab,”  ungkapnya.

Di tengah kesibukan kuliah dan mengajar renang, ia harus mengatur segalanya dengan bijak. 

Puncak perjuangan itu terasa jelang Porprov 2023 dan 2025. Maria  menjalani rutinitas berat. Bangun  pagi pukul 04.00 WIB untuk latihan fisik mandiri, sore latihan lagi dilanjut malam latihan tim hingga pukul 22.00 WIB.

Bahkan, selama hampir satu tahun, Maria berjalan kaki dari Kantor Disporapar ke kos karena belum memiliki kendaraan. Ia baru tiba di kos sekitar pukul 23.00 WIB. ‘’Itu momen perjuangan yang luar biasa,” kisahnya.

Latihan keras harus seimbang dengan  kewajiban akademik. Di tengah kesibukan itulah, Maria menemukan keyakinan. Ia  mampu menjadi juara dengan menyumbang medali emas untuk kontingen Kota Malang dalam Porprov IX Jatim 2025 lalu.

Tentang kempo di Kota Malang, Maria menyebut atmosfernya sangat mendukung. Atlet dari luar Jawa Timur diterima dengan terbuka dan dipercaya penuh membela daerah.

Bahkan para simpai   dan pelatih tak hanya melatih teknik. Namun   juga mendorong mental dan loyalitas terhadap tim.

“Ini akan saya tularkan untuk melahirkan atlet profesional di masa depan,” kata dia.  

Sekarang Maria  mengamati adanya harapan besar dari atlet muda Kota Malang. Anak-anak dan remaja berlatih penuh semangat. Mereka pantas menjadi atlet kempo profesional di masa depan.

Dia ingin  mengajak generasi muda Kota Malang berlatih keras. “Pantang menyerah, dan percaya diri bahwa suatu hari mereka bisa mengharumkan nama Kota Malang, Jawa Timur, bahkan Indonesia,” katanya optimis. (red)  

Jakarta Diprakirakan Hujan Hari Ini

Sekarang

Jakarta Diprakirakan Hujan Hari Ini

Sekarang