Halalbihalal yang Bertransformasi: Dari Silaturahmi Menuju Gerakan Gagasan
SekarangAja, MALANG– Halalbihalal di Balai RW 2 Jalan Klampok Kasri II, Gading Kasri, Kota Malang, Sabtu (28/3/2026) terasa berbeda. Halalbihalal yang biasanya identik dengan tradisi saling memaafkan, kali ini menjadi ruang refleksi, kolaborasi, sekaligus perayaan intelektual. Mahasiswa RPL Afirmasi PG-PAUD Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama) menghadirkan momentum yang tak hanya hangat secara emosional. Namun juga tajam secara gagasan.
Acara tersebut menjadi istimewa dengan dilaksanakannya launching buku berjudul “Lingkar Kecil, Cakrawala Luas (Implementasi Civic Education Guru PAUD dengan EKSOS Theory)”.
Buku ini bukan sekadar produk akademik, melainkan jejak kesadaran mahasiswa bahwa pendidikan anak usia dini tidak cukup hanya diajarkan—tetapi harus dimaknai, diolah, dan ditransformasikan dalam konteks kehidupan nyata.

Kegiatan ini dihadiri oleh mahasiswa, Kaprodi PG-PAUD Unikama yang turut memberikan sambutan, serta dosen pengampu Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan.
Kaprodi PG-PAUD Unikama Dr Siti Muntomimah, S.Pd, M.Pd menegaskan bahwa mahasiswa hari ini harus berani keluar dari zona “sekadar tahu” menuju “berani mencipta”.
‘’Buku yang diluncurkan menjadi bukti bahwa ruang kecil seperti kelas dapat melahirkan cakrawala pemikiran yang luas,’’ kata Dr Siti Muntomimah, S.Pd, M.Pd.
Dosen pengampu Pendidikan Kewarganegaraan Unikama Engelbertus Kukuh Widijatmoko, M. Pd mengajak peserta untuk melihat pendidikan dari sudut yang lebih dalam.
Civic Education, dalam perspektif EKSOS Theory, bukan hanya membentuk warga negara yang patuh, tetapi juga individu yang sadar, kritis, dan bertanggung jawab atas perannya dalam kehidupan sosial. Pendidikan, pada akhirnya, adalah proses membangun kesadaran—bukan sekadar menyampaikan materi.

Kekuatan acara ini tidak berhenti pada seremoni. Sharing mahasiswa menjadi ruang jujur yang membuka cerita di balik proses: tentang jatuh bangun menulis, kegelisahan berpikir, hingga keberanian mengekspresikan ide. Di titik ini, pendidikan terasa hidup—bukan sebagai kewajiban, tetapi sebagai perjalanan menemukan makna.
Lebih dari itu, pameran karya pendidikan menjadi bukti konkret bahwa kreativitas adalah denyut nadi pendidikan. Beragam karya ditampilkan, mencerminkan bahwa mahasiswa PG-PAUD tidak hanya dipersiapkan sebagai pendidik, tetapi juga sebagai inovator pembelajaran yang adaptif dan kontekstual.
Acara ditutup dengan ramah tamah yang hangat—atau dalam nuansa khasnya, “ramah taman”: ruang cair tempat relasi tumbuh tanpa sekat, tempat gagasan berlanjut dalam obrolan santai, dan tempat kebersamaan menemukan bentuk paling sederhana namun bermakna.
Pada akhirnya, kegiatan ini menyampaikan satu pesan yang kuat dan jernih: bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari panggung megah, tetapi justru dari lingkar kecil yang berani berpikir, bergerak, dan berbagi. Dan dari sanalah, cakrawala itu benar-benar menjadi luas. (red)















