Fasilitator Kurikulum Berbasis Cinta Dilatih Cara Mengajarkan Cinta

CIPUTATFasilitator nasional mengikuti pelatihan implementasi Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di lembaga pendidikan agama dan keagamaan. Ada 30 calon fasilitator yang tidak hanya dilatih hal teoritik, tapi juga cara efektif mengajarkan cinta.

Pelatihan calon fasilitator ini dikemas dalam Sarasehan Nasional Training of Facilitator (ToF). Kegiatan ini diselenggarakan Pusbangkom SDM, Pendidikan, dan Keagamaan di Ciputat. Hadir, sejumlah pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan, termasuk Presiden Direktur Mizan Group, Haidar Bagir, dan Project Officer Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia (INOVASI), Sri Widuri.

Keduanya memberikan pandangan tentang bagaimana pendidikan dan nilai-nilai cinta harus tertanam dalam proses pembelajaran dan budaya sekolah, bukan hanya sekadar pengetahuan teoritis.

Haidar Bagir menegaskan dalam mengajarkan cinta tidak dapat dilakukan dengan cara mengajarkan pengetahuan. Mengajarkan cinta harus dengan pengalaman dan dengan menimbulkan rasa cinta karena cinta menyatu dengan diri.

“Jangan pernah berpikir bahwa mengajarkan cinta itu cukup seperti mengajarkan objek di luar kita seperti matematika di kelas. Kalau cinta yang objeknya imanen, di dalam diri kita, dia menyatu sama diri kita,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan instruksi di kelas yang bersifat kognitif tidak akan menghasilkan cinta. Hal itu hanya akan menghasilkan ilmu tentang cinta. Budaya yang penuh cinta di lingkungan belajar perlu dibangun.

”Kalau kita ingin mengajarkan cinta, caranya dengan mengembangkan budaya sekolah yang penuh cinta, anti-bullying, kecintaan kepada anak-anak special needs, hubungan di antara guru dan siswa, hubungan di antara karyawan dan siswa, kemudian community reach,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Sri Widuri menyampaikan apresiasinya terhadap KBC yang sangat relevan untuk menguatkan pendidikan karakter yang selama ini belum menjadi prioritas utama. INOVASI memandang KBC cukup revolusioner dan paling fundamental.

”Kami bersyukur sekali bahwa Pak Menteri menggagas KBC sebagai salah satu upaya menguatkan values-based education yang akhirnya insyaallah nantinya dapat terwujud pola pikir dan perilaku anak-anak kita yang sesuai dengan yang dimandatkan dalam Pancasila,” jelasnya.

Ia menambahkan implementasi KBC juga perlu melibatkan semua aktor pendidikan termasuk orang tua sehingga keselarasan berpikir dan berperilaku dapat tercipta.

”Membangun karakter berbasis Pancasila di sekolah tetapi di rumahnya berbeda, akan timbul kebingungan dari anak-anak,” katanya.

Sarasehan Nasional Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) ini menjadi momentum penting untuk mendorong revolusi pendidikan di Indonesia yang tidak hanya berbasis pengajaran kognitif, tapi juga harus mengungkit nilai-nilai afektif. (red)

Hujan Diprakirakan Guyur Jakarta Hari Ini

IP Lokal  Pendorong Kreativitas Era Global

Sekarang

Hujan Diprakirakan Guyur Jakarta Hari Ini

Sekarang

IP Lokal  Pendorong Kreativitas Era Global

Sekarang

Maba UIN Cirebon Diberi Penguatan Karakter dan Cinta Tanah Air

Sekarang