Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan
SekarangAja, JAKARTA– Kemendikdasmen mencanangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan di Kantor Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Jakarta.
Kemendikdasmen menempatkan pencanangan ini sebagai respons atas berbagai tantangan yang masih dihadapi perempuan. Seperti keterbatasan akses pendidikan, belum meratanya dukungan untuk bercita-cita tinggi, stereotip gender, hingga ancaman kekerasan di ruang fisik maupun digital.
Dalam konteks ini, pendidikan dipandang sebagai sarana utama pemberdayaan perempuan melalui penguatan karakter, literasi, dan kesetaraan gender agar perempuan dapat berpartisipasi secara penuh di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, dan bahasa.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan melalui pendidikan merupakan bagian penting dari visi besar pendidikan nasional. Menurutnya, pemberdayaan perempuan melalui pendidikan sejalan dengan visi Pendidikan Bermutu untuk Semua.
“Komitmen ini harus sungguh-sungguh menjangkau anak perempuan di desa, di kota, di pesisir, di pegunungan, di wilayah terdepan, serta di keluarga yang menghadapi berbagai keterbatasan. Pendidikan tidak boleh diskriminatif, tidak boleh membatasi cita-cita anak perempuan, dan tidak boleh membiarkan stereotip ataupun rasa takut menghambat potensi mereka,” tutur Menteri Mu’ti.
“Kita ingin lahir perempuan Indonesia yang cerdas, sehat, tangguh, berkarakter, mandiri, rendah hati, dan mampu menjadi penggerak kemajuan bangsa. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan perlu ditopang oleh literasi yang utuh—baca-tulis, digital, hukum, dan literasi kritis—agar perempuan mampu mengambil keputusan, melindungi diri, dan menentukan arah hidupnya,” sambungnya.
Tentang Pencanangan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan Kegiatan ini mengusung tema “Pemberdayaan Perempuan: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin menjelaskan, tema tersebut dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa pendidikan merupakan jalan utama dalam membuka akses perempuan terhadap pengetahuan, membangun kepercayaan diri, mengembangkan keterampilan hidup, serta memperluas kepemimpinan dan ruang pengambilan keputusan.
“Melalui pendidikan, kualitas sumber daya manusia diperkuat, partisipasi perempuan dalam pembangunan diperluas, serta keluarga dan masyarakat didorong menjadi lebih berpengetahuan, berdaya, dan berkeadaban,” jelasnya.
Lebih lanjut, Hafidz menyampaikan bahwa bahasa dan sastra memiliki peran strategis sebagai medium pembentuk kesadaran, pengasah daya pikir kritis, serta ruang refleksi atas posisi dan kontribusi perempuan dalam kehidupan sosial, pendidikan, budaya, dan kebangsaan.
Oleh karenanya, pemberdayaan perempuan, penguatan literasi, serta penguatan nilai kebersamaan merupakan fondasi penting dalam pembangunan sumber daya manusia yang unggul, inklusif, dan berdaya saing.
Adapun kegiatan ini yang bertepatan momentum Hari Kartini, dimaknai sebagai agenda pendidikan dan penguatan karakter bangsa yang berkelanjutan. Kemendikdasmen menegaskan bahwa peringatan Hari Kartini perlu dihadirkan kembali melalui gerakan gemar belajar, penguatan literasi, kehidupan bermasyarakat, serta aksi nyata.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1993—1995, Wardiman Djojonegoro menilai pendidikan adalah kunci utama pemberdayaan perempuan, perempuan sebagai subjek pembangunan, pelaku perubahan, dan kekuatan kemajuan bangsa. (red)
- Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan
- Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan
- Hafidz Muksin
- Kemendikdasmen
- Kemendikdasmen Canangkan Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan
- Kepala Badan Bahasa Hafidz Muksin
- Mendikdasmen Abdul Mu’ti
- Pemberdayaan Perempuan: Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua















