Guru Besar Universitas Ma Chung Bekali Ratusan Guru di Event Pasuruan Excellent Teacher 2026
SekarangAja, PASURUAN– Universitas Ma Chung terus berperan dalam penguatan kualitas dan kompetensi guru. Itu salah satunya dibuktikan dengan keterlibatan salah satu guru besar Universitas Ma Chung Prof Dr Daniel Ginting M.Pd sebagai narasumber dalam rangkaian Pasuruan Excellent Teacher 2026, yang diikuti ratusan guru di Kabupaten Pasuruan pada 5–6 September 2026.
Kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan para pendidik dengan sejumlah tokoh nasional untuk membahas tantangan pendidikan Generasi Alpha, pengembangan pembelajaran transformatif, serta pemanfaatan teknologi digital yang lebih bermakna di sekolah.
Rangkaian kegiatan juga diwarnai Malam Keakraban Pasuruan Excellent Teacher 2026 di Pendopo Kabupaten Pasuruan. Event ini mempertemukan para narasumber, penyelenggara, serta pemangku kepentingan pendidikan. Kegiatan seminar dan penguatan kompetensi guru selanjutnya dilaksanakan di SMAN 1 Purwosari, Kabupaten Pasuruan.
Pasuruan Excellent Teacher 2026 menghadirkan sejumlah narasumber. Antara lain Teacher Zayn, praktisi pendidikan, penulis buku Salah Vonis, sekaligus Co-Director School of Human; Prof. Dr. Seto Mulyadi, M.Si., Psikolog, Ketua Dewan Pakar Lembaga Perlindungan Anak Indonesia Prof. Dr. Daniel Ginting, M.Pd, Guru Besar Universitas Ma Chung yang memiliki kepakaran dalam pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran. Selain itu Firsta Yufi Amarta Putri, Puteri Indonesia 2025 dan Miss Supranational Asia & Oceania 2025.
Pasuruan Excellent Teacher 2026 diarahkan untuk meningkatkan wawasan para guru agar semakin siap mendidik anak-anak Generasi Alpha sekaligus mampu merancang sistem pembelajaran digital yang adaptif dan bermakna. Kehadiran Universitas Ma Chung dalam kegiatan ini memperlihatkan kontribusi perguruan tinggi dalam menjembatani pengembangan keilmuan dengan kebutuhan nyata para guru di sekolah.
Universitas Ma Chung Dorong Transformasi Pembelajaran
Kehadiran Prof Daniel Ginting dalam kegiatan tersebut sekaligus memperlihatkan kontribusi akademisi Universitas Ma Chung dalam menjembatani perkembangan keilmuan di perguruan tinggi dengan kebutuhan praktis guru di sekolah.
Dalam rangkaian seminar, Prof. Daniel membawakan dua materi yang sama-sama menempatkan guru bukan sekadar sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai perancang pengalaman belajar dan penggerak cara berpikir peserta didik.
Materi pertama bertajuk “Public Speaking for Transformative Teaching”. Dalam sesi ini, Prof. Daniel mengajak para guru melihat public speaking dari sudut pandang yang berbeda. Kemampuan guru berbicara di depan kelas tidak cukup diukur dari lancarnya penjelasan, menariknya slide, atau jelasnya suara.
| “Apa yang terjadi dalam pikiran siswa setelah guru selesai berbicara?” |
Pertanyaan tersebut menjadi titik tekan sesi: apakah siswa sekadar mendengar dan mencatat, atau justru mulai bertanya, mempertimbangkan suatu persoalan, mempertanyakan asumsi yang selama ini dianggap benar, kemudian menemukan cara pandang baru? Dalam materi tersebut, komunikasi guru ditempatkan sebagai sarana untuk menggerakkan proses berpikir peserta didik.
Para guru diperkenalkan pada alur TRIGGER → REFLECTION → ACTION → INTEGRATION. Guru dapat memulai transformasi belajar melalui cerita, gambar, pertanyaan, dilema, maupun situasi sederhana yang membuat siswa berhenti sejenak dan berpikir.
Untuk memperdalam refleksi, peserta diperkenalkan pada pola pertanyaan WHAT → WHY → WHAT IF → SO WHAT → NOW WHAT. Pola tersebut membawa siswa dari mengenali apa yang terjadi, mencari alasan, mempertimbangkan kemungkinan berbeda, menemukan makna, hingga menentukan tindakan setelah memperoleh pemahaman baru.
Berbagai persoalan keseharian siswa digunakan sebagai bahan diskusi, mulai dari kejujuran, tekanan teman sebaya, perundungan hingga penggunaan kecerdasan buatan atau AI.
Salah satu kasus memperbandingkan siswa yang mengerjakan esai sendiri selama beberapa jam dan memperoleh nilai 78 dengan siswa yang menggunakan AI selama beberapa menit dan memperoleh nilai 95. Peserta kemudian diajak mempertanyakan: siapa yang sebenarnya lebih berhasil belajar?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat sesi berlangsung hidup. Para guru tidak hanya menjadi pendengar, tetapi terlibat dalam diskusi, menyampaikan pendapat, mempertahankan alasan, serta merefleksikan praktik mengajar mereka sendiri. Antusiasme peserta terlihat selama interaksi berlangsung.
Dari PDF Menuju Pengalaman Belajar Digital
Pada materi berikutnya, Prof. Daniel membawakan tema “Transformasi Guru Abad 21: Merancang e-Modul Interaktif Berbasis Kurikulum Adaptif untuk Pembelajaran Digital yang Bermakna”.

Salah satu pesan penting yang disampaikan adalah bahwa digitalisasi pembelajaran tidak sama dengan sekadar mengubah buku menjadi PDF.
Penggunaan teknologi tidak cukup hanya dengan menampilkan video, membagikan file digital, atau memberikan tugas melalui platform daring. Guru perlu merancang bahan ajar digital yang interaktif, adaptif, dan mempertimbangkan kemampuan awal, kebutuhan, minat, serta kecepatan belajar siswa.
Dalam materi tersebut, e-modul interaktif dijelaskan bukan hanya sebagai kumpulan teks dan gambar, tetapi sebagai pengalaman belajar yang dapat mengintegrasikan pertanyaan pemantik, aktivitas, video, latihan, kuis, umpan balik, asesmen, dan refleksi. Teknologi hanya merupakan alat. Kualitas pembelajaran tetap ditentukan oleh kualitas desain pedagogis guru.
Prof. Daniel juga memperkenalkan enam komponen penting dalam merancang e-modul adaptif. Yaitu analisis kebutuhan peserta didik, pemetaan tujuan pembelajaran, penyusunan konten modular, penyediaan jalur belajar adaptif, penguatan aktivitas interaktif, serta evaluasi berbasis asesmen formatif.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi diarahkan bukan semata-mata untuk membuat pembelajaran terlihat modern, tetapi untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih personal, aktif, inklusif, fleksibel, dan bermakna.
Perguruan Tinggi dan Sekolah Perlu Berjalan Bersama
Keterlibatan Universitas Ma Chung dalam Pasuruan Excellent Teacher 2026 menunjukkan pentingnya hubungan antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menghadapi perubahan dunia pendidikan.
Pengetahuan dan hasil pengembangan akademik di perguruan tinggi perlu bertemu dengan pengalaman nyata para guru di kelas. Sebaliknya, persoalan yang dihadapi guru sehari-hari dapat menjadi dasar bagi akademisi untuk terus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih relevan.
Di tengah berkembang pesatnya AI, teknologi digital, dan perubahan karakter peserta didik, salah satu pesan yang mengemuka dari sesi tersebut adalah bahwa transformasi pendidikan tidak bermula dari kecanggihan teknologi, tetapi dari kualitas keputusan pedagogis guru.
Guru abad ke-21 tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Guru perlu mampu memilih teknologi secara kritis, merancang pembelajaran yang fleksibel, menciptakan pertanyaan yang membuat siswa berpikir, serta membantu peserta didik menghubungkan pengetahuan yang mereka pelajari dengan persoalan kehidupan nyata.
Melalui partisipasi akademisinya dalam Pasuruan Excellent Teacher 2026, Universitas Ma Chung ikut memperkuat semangat kolaborasi perguruan tinggi dan sekolah untuk membangun pendidikan yang semakin adaptif, reflektif, dan bermakna bagi generasi masa depan. (sadw/red)
- Guru Besar Universitas Ma Chung Bekali Ratusan Guru di Event Pasuruan Excellent Teacher 2026
- Pasuruan Excellent Teacher 2026
- Universitas Ma Chung
- Universitas Ma Chung hadir di Pasuruan Excellent Teacher 2026
- Universitas Ma Chung perguruan tinggi hebat di Malang
- Universitas Ma Chung perguruan tinggi terkemuka di Malang















