U

Ini Cerita Guru Madrasah Usai Mengikuti Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta

SekarangAja, JAKARTA Semangat dan spirit guru makin menyala usai mengikuti Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Pendidikan tak hanya lahir dari transfer ilmu pengetahuan. Namun dari empati dan kasih sayang di ruang kelas. Semangat itu mulai mekar di berbagai madrasah di Indonesia setelah pelatihan KBC.

Pelatihan ini digelar Pusbangkom SDM Kementerian Agama melalui platform Massive Open Online Course (MOOC) Pintar. Melalui ruang belajar digital, para guru, kepala madrasah, hingga pengawas diajak merenungkan kembali hakikat mendidik: membentuk karakter anak bangsa melalui pendekatan yang humanis, menghargai potensi murid, dan mengikis pola mengajar yang berbasis rasa takut.

Perubahan paradigma mengajar menjadi salah satu manfaat mendasar yang dirasakan para peserta. Guru MAN 10 Jakarta, Muhamad Randi, misalnya,  mengaku pelatihan tersebut memanggil kembali ingatan filosofisnya tentang esensi hubungan guru dan siswa.

“Saya teringat sebuah maqalah Arab, ‘Udkhulu min bâbil hubb, lâ min bâbil khauf’—masuklah dari pintu cinta, bukan dari pintu takut. Pelatihan ini mengingatkan kembali bahwa mendidik akan jauh lebih bermakna ketika dimulai dengan kasih sayang,” ungkapnya.

Pengalaman serupa disampaikan Dwi Sasmita Ningtyas, guru MTs Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng, Jombang. Menurutnya, pendekatan KBC membantunya memahami peran pendidik sebagai sosok yang tidak hanya menjejali materi, tetapi juga pandai mengelola emosi dan memanusiakan peserta didik.

“Pelatihan ini membuka wawasan saya tentang bagaimana menjalankan amanah sebagai pendidik dengan penuh cinta, memanusiakan manusia, sekaligus belajar mengelola emosi dalam proses pembelajaran sehari-hari,” ujarnya.

Bagi Husin, guru RA Maritza, Sumatera Utara, manfaat pelatihan terasa langsung dalam dinamika belajar mengajar sehari-hari. Ia memperoleh modal pendekatan visual dan metodologis yang membuat suasana kelas menjadi lebih hidup.

“Kami belajar menciptakan kelas yang mindful, meaningful, dan joyful, sekaligus mengintegrasikan nilai cinta dan moderasi beragama ke dalam modul ajar agar pembelajaran tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga membentuk karakter peserta didik,” jelasnya.

Dampak nyata terhadap psikologis siswa juga dirasakan oleh guru MIN 1 Parigi, Sulawesi Tengah, Wiji Bambang Susilo. Menurutnya, rasa aman yang dihadirkan guru berbanding lurus dengan semangat belajar anak.

“Pelatihan ini memberikan pemahaman bahwa mendidik dengan cinta mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sekaligus menciptakan suasana kelas yang lebih nyaman dan menyenangkan,” tuturnya.

Tak hanya mengasah teknis pedagogis, pelatihan KBC juga menyentuh dimensi spiritual para pendidik. Guru MTsN 3 Merangin, Jambi, Umul Aiman, membagikan refleksi mendalam yang ia dapatkan selama sesi pelatihan.

“Saya menjadi lebih mengenal Allah melalui nama-nama-Nya dan semakin menyadari bahwa kasih sayang-Nya dapat menjadi inspirasi dalam mendampingi peserta didik setiap hari,” katanya.

Hal senada disampaikan Baiq Rukaiyah, guru MI Ad-Da’wah, Nusa Tenggara Barat. Baginya, KBC menjadi panduan untuk merancang pembelajaran yang holistik.

“Pelatihan KBC membantunya menyusun pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai cinta kepada Allah, sesama manusia, lingkungan, dan diri sendiri,” katanya.

Rangkaian cerita dari berbagai penjuru daerah ini menegaskan bahwa keberadaan MOOC Pintar lewat Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta berhasil melampaui batas-batas pelatihan formal. Program ini mendorong perubahan cara pandang dan lahirnya suasana sekolah yang lebih ramah, inklusif, dan bermakna bagi tumbuh kembang generasi mendatang. (red)

Sekarang

Permainan Tradisional Hidupkan Pembelajaran Mendalam

Sekarang

Indonesia Tipitaka Chanting 2026 Diikuti Ribuan Umat Buddha

Inspirasi