U

Persaudaraan Sejati di Gereja Kumetiran: Dari Angpau Imlek hingga Takjil untuk Umat Muslim

SekarangAja, YOGYAKARTASuasana toleransi dan persaudaraan sejati  kental di Gereja Hati Santa Perawan Maria Tak Bercela (HSPMTB) Kumetiran, Yogyakarta, Minggu (22/2/2026) sore tadi. Selain misa Syukur Tahun Baru Imlek, juga disediakan paket takjil bagi warga Muslim di sekitar Gereja yang sedang mempersiapkan waktu berbuka puasa.

Umat Katolik Tionghoa dan warga paroki setempat berkumpul merayakan Ekaristi Syukur Tahun Baru Imlek 2026 yang jatuh di tengah masa Prapaskah.

​Mengusung tema “Tahun Baru, Hati Baru: Bertobat dan Berbuah dalam Kasih”, misa dipimpin oleh selebran utama Pastor Vincentius Indra Sanjaya Pr, didampingi  Pastor Albertus Herdaryono Pr, dan Pastor Aloysius Dwi Prasetyo Pr.

​Kompromi Iman dan Tradisi

Dalam homilinya, Pastor Indra Sanjaya menyoroti keunikan perayaan Imlek yang sering kali berdekatan dengan kalender liturgi Gereja, seperti Rabu Abu atau Minggu Prapaskah. Ia menyebut pemilihan tema tahun ini sebagai sebuah ‘kompromi yang bijaksana’ antara tradisi budaya dan perjalanan iman Katolik.

​”Kalau kita bicara Imlek, biasanya doanya adalah Gong Xi Fa Cai, rezeki melimpah. Tidak ada rumusan Imlek yang isinya ajakan bertobat,” ujar Pastor Indra berseloroh di hadapan umat.

​Namun, ia menegaskan bahwa penggabungan tema tersebut adalah bentuk kontekstualisasi iman. “Ajakan bertobat datang dari semangat Minggu Prapaskah Pertama. Kita merayakan Imlek sebagai syukur atas pergantian musim dingin menuju musim semi, yang melambangkan pengharapan kehidupan baru dari Tuhan,” tambahnya.

​Filosofi Kuda Api

​Ketua Panitia Imlek 2026, Albertus Budi Setiawan, menjelaskan bahwa tahun ini merupakan tahun Kuda Api. Dalam tradisi Tionghoa yang ditarik ke dalam konteks iman Katolik, Kuda melambangkan kekuatan umat kepada Kristus, sementara Api melambangkan kobaran semangat Roh Kudus.

​”Melalui tema ini, kita berharap umat mempunyai kekuatan dan semangat untuk menghadirkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera, terutama melalui aksi nyata dalam masa Prapaskah ini,” tutur Budi.

Potret Moderasi Beragama

Kemeriahan di Kumetiran tidak hanya dirasakan oleh umat Katolik. Sebagai wujud toleransi dan persaudaraan sejati (fratelli tutti), panitia menyediakan paket takjil bagi warga Muslim di sekitar Gereja yang sedang mempersiapkan waktu berbuka puasa.

​Di dalam Gereja, keceriaan terpancar dari wajah anak-anak saat mereka menerima berkat dari Pastor dan mendapatkan angpau. Sementara itu, ratusan umat yang hadir menerima bingkisan khas berupa kue keranjang, permen, dan manisan.

​Hadir dalam acara tersebut, Kapolsek Gedongtengen AKP Yulianto, yang mengapresiasi perayaan ini sebagai potret nyata moderasi beragama di Yogyakarta.

​”Apa yang kita lihat hari ini bukan sekadar perayaan agama atau budaya, melainkan wujud nyata moderasi beragama. Umat Katolik merayakan tradisi Tionghoa, namun tetap menghormati dan berbagi dengan saudara Muslim melalui pembagian takjil,” ujar AKP Yulianto. 

Ia juga memuji peran aktif masyarakat dalam menjaga situasi kamtibmas yang kondusif di wilayah Kumetiran.

Pesta Budaya di Tengah Rintik Hujan

​Meski sempat diwarnai hujan, perayaan berlanjut meriah di halaman gereja dengan pesta budaya yang menampilkan atraksi barongsai, liong, demonstrasi wushu, dan puncaknya pesta kembang api.

​Budi Setiawan mengapresiasi kerja sama lintas wilayah (Wilayah 10, 11, 12, dan 13) yang tergabung dalam Forklest serta para donatur.

“Perayaan ini menjadi bukti iman Katolik mampu berjalan beriringan dengan tradisi budaya, menciptakan harmoni di tengah keberagaman masyarakat Yogyakarta,” pungkasnya. (red)

Polri Bentuk Satgas ASRI

Sekarang

Polri Bentuk Satgas ASRI

Hijau

Baznas dan OJK Malang Perkuat Literasi Keuangan Syariah

Sekarang

Satpol PP Kota Malang Ingatkan Pasar Takjil Wajib Taat Aturan

Sekarang