Gereja Kuasi St Paulus Kraksaan Probolinggo Ditetapkan Jadi Paroki, Begini Pesan Uskup Malang
SekarangAja, PROBOLINGGO- Kuasi Paroki St Paulus Kraksaan, Probolinggo ditetapkan menjadi Paroki St Paulus Kraksaan. Penetapan dilakukan dalam misa Minggu (25/1/2026). Penetapan kuasi menjadi Paroki St Paulus Kraksaan, Probolinggo dilakukan oleh Uskup Keuskupan Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm.
Sekretaris Keuskupan Malang RD Yusuf Dimas Caesario membacakan Dekrit Penetapan Gereja Katolik St Paulus Kraksaan, Probolinggo yang menyebutkan bahwa Kuasi Paroki St Paulus Kraksaan yang ditetapkan 1 April 2021, telah layak berdiri sebagai Paroki. Sehingga Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm, Uskup Keuskupan Malang, memutuskan berdirinya Paroki St Paulus Kraksaan.
Keuskupan Malang menetapkan bahwa 25 Januari 2026 sebagai tanggal resmi berdirinya Paroki St Paulus Kraksaan dan sekaligus mengangkat RD Damianus Fadjar Tedjo Sukarno sebagai Pastor Kepala Paroki yang pertama, untuk periode 25 Januari 2026 – 25 Januari 2029. Selain itu juga melantik Badan Pengurus Gereja dan Dana Amal (BPGDA) dan Dewan Pastoral Paroki (DPP) St Paulus Kraksaan untuk periode yang sama.
Romo Yusuf Dimas selanjutnya membacakan keputusan Uskup Keuskupan Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm tentang pemberhentian dengan hormat RD Agustinus Devit Setiawan dari tugas dan jabatan sebagai Pastor Kepala Kuasi Paroki St Paulus Kraksaan, terhitung pada tanggal 25 Januari 2026.
Uskup Mgr Pidyarto mengucapkan terima kasih atas segala jasa pengorbanan dan pengabdian Romo Devit selama bertugas sebagai Pastor Kepala Kuasi Paroki St Paulus Kraksaan. Romo Devit selanjutnya akan bertugas di Komisi Kepemudaan Keuskupan Malang.
Uskup Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm berharap Gereja Paroki Santo Paulus Kraksaan, Probolinggo menjadi paroki yang sesungguhnya di mana Allah hadir. Dan umatnya mempunyai semangat tobat yang sejati seperti Santo Paulus sehingga tercipta damai dan persatuan.
“Hari ini, 25 Januari dirayakan sebagai pesta pertobatan Santo Paulus. Bertobat bagi Santo Paulus itu artinya dia punya keyakinan baru. Dulu Santo Paulus mengira bisa selamat karena berbuat baik, menaati aturan hukum taurat jadi saya berhak menuntut Tuhan supaya masuk surga. Inilah yang salah. Manusia tidak bisa selamat hanya menjalankan hukum-hukum, bagi Santo Paulus bertobat berarti pikirannya, keyakinan yang salah ini diubah, lalu dia punya pikiran baru, saya selamat hanya karena Yesus mencintai saya dan menyelamatkan saya. Inilah pertobatan Paulus,” kata Mgr Pidyarto.
Lebih lanjut Mgr Pidyarto mengatakan, dunia ini seringkali kacau. Namun, kita tahu bahwa rakyat di manapun di dunia ini bisa hidup baik, sejahtera, damai, bahagia kalau rajanya, pemimpinnya itu baik. Sebaliknya, rakyat akan menderita kalau raja atau presiden atau siapapun penguasanya tidak baik.
“Maka penting sekali kita memohon supaya Allah sendiri yang menguasai hidup kita karena Allah adalah raja yang memberikan yang baik saja untuk kita. Akan tetapi supaya Allah bisa datang di tengah-tengah kita, datang di dalam hati kita, perlu ada pertobatan. Sebab kedatangan Allah tidak memaksa kita, kedatangan Allah hanya menawarkan kepada kita tergantung kita mau menerima kedatangan-Nya atau menolak,” tuturnya.
Sebaliknya, lanjut Mgr Pidyarto, kalau kita mau menerima kedatangan Tuhan maka singkirkan segala penghalang bagi Dia.
“Itulah yang diwartakan oleh Yohanes Pembaptis: Siapkanlah jalan bagi Tuhan, jalan yang berlekak lekuk harus diluruskan artinya kalau Tuhan mau datang hati manusia harus disiapkan, bukan hati yang penuh dengan lika-liku, penuh dengan kelicikan, penuh dengan luka-luka dosa, lubang sana lubang sini karena dosa, itu penghalang bagi datangnya Tuhan ke tengah-tengah kita.”
Mgr Pidyarto melanjutkan, di sinilah kita perlu menyiapkan suatu hati yang membuka diri dan menyiapkan kedatangan Tuhan dengan satu kata: pertobatan. Bagaimana kita harus bertobat pertama-tama jelas bertobat itu menurut Kitab Suci adalah berhenti berbuat dosa. Sebab dosa itu melawan Tuhan. Bertobat pertama-tama menghentikan apa saja yang tidak dikehendaki Tuhan.
Banyak dosa entah iri hati, benci, dendam, keserakahan, korupsi macam-macam dosa. Bertobat berarti berhenti melakukan itu semua. Dan kembali ke jalan yang benar. Tetapi tidak cukup. Pertobatan itu berarti selalu memperbarui diri semakin sempurna, selalu memperbaiki diri agar semakin mirip dengan Tuhan kita. Karena kita diminta sempurna seperti Bapa di surga sempurna adanya.
“Jadi bertobat artinya setelah meninggalkan dosa, menyesuaikan hidup kita dengan kehendak Tuhan, seperti dilakukan Santo Paulus itu,” tandasnya.
Menutup kotbahnya, Mgr Pidyarto mengajak seluruh umat yang hadir memohon agar bisa melakukan pertobatan.
“Berhenti berbuat jahat itu baik tetapi tidak cukup, terus menerus melihat apakah sikap kita sesuai dengan kehendak Tuhan, apakah pikiran saya sesuai dengan kehendak Tuhan, itu harus terus dilakukan dan tidak akan selesai sampai kita mati,” tutur Mgr Pidyarto.
Romo Fadjar: Mari Bergandengan Tangan, Berjalan Bersama
Dalam sambutannya usai Misa Penetapan Paroki St Paulus Kraksaan, Romo Fadjar yang secara resmi ditetapkan sebagai Pastor Paroki yang pertama mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja hingga Kuasi St Paulus Kraksaan menjadi Paroki.
“Kedua, saya juga minta maaf jika di sana sini banyak hal yang mungkin tidak berkenan di hadapan Anda,” ujarnya.
Ketiga, Romo Fadjar secara khusus mengajak seluruh umat di Paroki St Paulus Kraksaan. “Mari kita bergandengan tangan, berjalan bersama, supaya menjadi paroki seperti paroki-paroki yang lain, meskipun kita adalah paroki ke-33 di Keuskupan Malang ini. Yakinlah dengan berjalan minimal mewujudkan apa yang divisitasikan oleh Kuriah Keuskupan, dengan segala keterbatasannya,” katanya.
Dan, keempat, Romo Fadjar memohon dukungan kepada semua yang hadir termasuk Paroki-paroki terdahulu.
“Dukunglah kami paroki yang muda ini. Dan, khususnya kepada Paroki Probolinggo, jangan karena kami sudah menjadi Paroki terus dilepaskan begitu saja, kami juga masih perlu asupan,” tandas Romo Fadjar.
Selain Romo Fadjar, turut memberikan sambutan usai Misa Kudus, Ketua DPP St Paulus Kraksaan Richardus Dwi Gunawan Napitu, Pastor Paroki St Maria Bunda Karmel Probolinggo RP Agis FX Agis Triatmo OCarm, Pastor Kapelan Kuasi Paroki Kraksaan RD Agustinus Devit Setiawan, dan Uskup Malang Mgr Henricus Pidyarto Gunawan OCarm. Setelah penandaanganan Prasasti Penetapan Paroki St Paulus Kraksaan, acara dilanjutkan dengan foto bersama dan ramah tamah. (pwki/red)















